Penjual Mie

Pengalaman ini kira-kira setahun yang lalu, saat waktu aku di China, sudah lama aku ingin menuliskan pengalaman ini, tapi baru sekarang tertuangkan ke dalam tulisan. Saat itu aku bilang kepada istriku, kalau nanti sabtu bangun pagi, kita jalan jalan ke pasar basah, ngak jauh kok jalan kaki kataku, Karena setiap pagi ke kantor dengan mobil seperti taxi gelap, tapi dengan setia si taksi ini mengantarku dari pintu gerbang apartment, walau aku tidak bisa berkomunikasi dengannya, tapi karena dia sudah tahu aku mau kemana, jadi yah sudah saling terbentuk bahasa antar aku dan si supir, dan selama perjalanan inilah aku selalu mengamati pasar basah yang aku ingin untuk mampir dan jalan jalan disitu.

Jadilah rencana ini terlaksana, suhu saat itu sekitar 0 sampai -5 derajat celcius, dingin sekali, jadi badanku jadi gemuk karena lapisan baju, dan bersama istri berjalan ke pasar, wow senangnya melihat transaksi jual beli mengingatkan keadaan di Jakarta, masa masa kecil berjualan di pasar palmerah, dimana masih pasar traditional, terkenang aku dengan nenek dan kakekku yang berjualan di pasar, dan aku selalu membantu membuatkan kantong belanjaan dari kertas dengan lem tepung kanji.

Perlahan aku melihat transaksi yang terjadi, wow pasar ini lengkap dari yang basah2, ikan, ayam, daging segar, sampai buku, baju pun ada, yang lebih bikin aku kaget, transaksi baju langsung jahit pun bisa terjadi di pasar ini. Dan juga barang2 bekas pun banyak. Suhu yang dingin tidak membuat mereka terganggu, sayur-sayur dan buah2-an itu segar segar, tidak tahan untuk tidak membelinya. Perasaan ini tidak aku dapatkan kalau aku belanja di pusat perbelanjaan besar, walau barangnya lebih lengkap dan mungkin lebih bagus, aku lebih merasa bebas dan nyaman disini. Untungnya istri pun suka juga jalan jalan di pasar basah dan juga pasar malam.

Sesaat melewati tukang jualan ayam potong, ada anak kecil duduk di depan kerangkeng ayam, jadi teringat masa kecil dulu waktu diajak mama ke pasar, aku pun demikian senang melihat ayam2 ini, tapi benarnya kasihan ayam2 itu karena menunggu nyawanya tercabut, sekarang aku rada sedih kalau melihat seperti itu.

Kebanyakan dari mereka sudah cukup tua juga, tapi semangat mereka besar sekali, melihat kesetiaan suami istri, yang berjalan begandengan, serta mengendarai gerobak, dimana sang istri duduk di dalam gerobak, sang suami mendorong tau mengayuh sepedanya, sungguh suatu makna kesetiaan yang mungkin sekarang sudah jarang terlihat lagi. Semua itu bisa aku saksikan di pagi hari di pasar ini, sungguh pelajaran berharga, dalam hati aku pun berguman, ah aku juga mau tetap menjaga istriku seperti si kakek tersebut.

Sampai akhirnya aku mulai lapar, biasa memang perut ini harus diisi untuk makan pagi, apalagi suasana dingin sekali seperti ini, dan sesaat melewati penjual mie, aku yang melirik istriku, dia pun tahu kalau aku suka jajanan seperti ini, dimana pun aku pergi aku suka makan di pinggir jalan, walau katanya kurang bersih, tapi aku malah selalu ingin mencoba makanan seperti ini.

Sebelum memesan aku melihat sang suami istri ini berjualan, dan mengamatinya, aku lihat jari-jari tangannya sudah bengkak, memerah, karena cuaca dingin, dan dia terpaksa tidak pakai sarung tangan, sehingga aku tahu benar betapa sakitnya itu kulit. Aku berdiri di samping tempat masaknya, hangat disitu, dan lebih dekat lagi mengamati cara mereka membuat mie itu, dari tepung yang diambil segenggam kemudian ditarik tarik, kemudian terbentuklah mie ayam itu, sungguh proses yang menarik, tidak disangka hanya dengan ditarik kok bisa jadi sama ukurannya, dan itu aku amati terus, sambil senyum kepadanya aku meminta ijin untuk mengabadikan mereka melalui kameraku, dan mereka tertawa, orang lain pun jadi bergerumul mungkin mereka pikir wah ada wartawan nyasar, tapi aku dengan senang memotret karena mereka mengijinkannya. Lalu kami memesan mie itu, mereka sangat senang karena mereka tahu kami ini orang asing dan mau mencoba mie mereka.

Sang istri mempersilahkan kami duduk kemudian si suami memasak mie, sambil menunggu aku mlihat meja yang sederhana ini, ada sumpit kayu yang cukup berumur serta juga si ibu memberikan kami segelas air hangat, lumayan untuk memanaskan jari tangan. Semangkuk mie itu datang, dengan telur didalamnya, wow dingin dingin seperti ini makan mie yang hangat ah enaknya, tanpa banyak daging mungkin hanya 1-2 potong daging, rasa yang cukup bagiku untuk sarapan pagi, dan mereka senang aku menikmati mie ini.

Bagiku senyum mereka, dimana aku menghargai makanan mereka itu menjadi suatu hal berharga yang aku dapatkan pagi itu, aku rasa demikian dengan mereka, aku duduk disitu, dan mengamati mereka, semangkuk mie itu 3,5 RMB (Rp 5,500), cukup besar dan murah untuk harga makanan disana, dan untuk itu si penjual aku lihat selama kurang lebih 1 jam aku disitu memperhatikannya tidak begitu banyak yang makan, mungkin sekitar 10-15 orang. Jadi perjuangan yang sangat berat juga bagi mereka, karena di cuaca dingin seperti ini, kulit tangan terluka, muka yang sudah memerah, jari-jari tangan membengkak. Ah semua itu membuat aku terlecut untuk tidak mudah menyerah, tidak mudah putus asa, sabar, semua orang berjuang dengan carany asendiri untuk tetap hidup.

Pekerjaanku pun demikian, semakin susah, sering aku menggerutu, ah ini bukan salahku, kenapa jadi bagian kerjaanku, itu semua harusnya bisa diselesaikan oleh team lain, kenapa harus aku yang bersihin perkerjaan ini, tapi lama lama aku berpikir aku harus berterima kasih juga, keadaan ekonomi makin susah, pekerjaanpun makin susah, kalau mereka semua bisa menyelesaikan dengan baik, tidak ada kesalahan-kesalahan, tidak ada error-error lagi, mungkin aku sudah tidak ada lagi disini. Jadi aku pun mulai menerima dan berguman dalam hati untuk berterima kasih atas banyaknya kesalahan ini, karena dengan demikian aku masih dibutuhkan. Aku mulai menerima semua itu, dan melakukan dengan baik apa yang bisa aku lakukan. Aku masih duduk ditempat yang bagus, ada penghangat ruangan di kala cuaca dingin, semua sebenarnya sudah sangat mencukupi, mengapa aku masih menggerutu? Mengapa aku tidak belajar mensyukuri keadaanku dan berterima kasih kepada Tuhan atas berkatNya.

Ah penjual mie, terima kasih atas kisahmu, tanpa kalian sadari, kalian telah memberikan pelajaran berharga, keuntungan materil yang kalian dapat mungkin kecil sekali, tapi dengan seharga 3,5 RMB kalian sebenarnya telah menjual suatu ‘pelajaran berharga tentang kehidupan yang tiada ternilai harganya’.

November 17th, 2008 by admin | No Comments »

Lilin Lilin Kecil

Kira-kira sebulan lalu, sesaat aku hendak pergi ke tempat resepsi perkawainan untuk memotret pasangan yang memintaku datang untuk memotret. Perjalanan dengan mobilku si biru. Semua berjalan lancar, sampai menuju ke restaurant, di jalan tol, terdengar seperti suara jangkrik, dan aku segera mengecek temperature si biru ini demam tinggi atau tidak. Ternyata semua baik, tapi rasa kawatirku mulai menguat setelah di tikungan menanjak dia mati mendadak, oh tidak, jangan sekarang, aku mesti tepat waktu sampai ke acara, karena aku akan mengatur setting kamera dan melihat situasi tempat tersebut. Ah dia mendengarku, si biru masih bisa menanjak sampai ke atas, dan aku akhirnya selamat sampai di tempat pesta.

Sepulang dari pesta aku melihat di bekas parkiranku, ada beberapa genangan air, aku berkata ah apakah itu air dari si biru, atau hanya sisa2 air lain. Tapi salahku juga aku tidak memeriksanya lebih jauh dan karena waktu yang medesak aku putuskan untuk pulang langsung menuju ke bandara. Dalam perjalanan tol awalnya lancar, sampai aku merasa kok pedal gas dan rem mulai panas, dan aku lihat wow si biru demam tinggi, sudah harus berhenti dan minta diperhatikan, karena takutnya aku berhenti di tol akan kena masalah lebih jauh, akhirnya aku bisa menahan si biru sampai keluar tol terdekat di daerah Pantai Indah Kapuk, dan langsung aku buka kap depannya, ah berasap, tapi blum meletus, jadi aku tunggu diam, dan aku yakin air radiator udah pasti habis. Setelah sekian lama menunggu, setelah cukup dingin aku buka dan benar kosong. Ah di jalanan sepi ini, aku harus mencari air dimana, sebotol aqua tidak cukup untuk mengisi radiator yg kosong ini. Aku sebenarnya janji dan sudah bilang kepada temanku, sesaat sebelum pulang dari pesta tersebut, kalau aku pulang dan ada masalah aku akan telepon dia. Tapi saat itu karena jaraknya jauh dan aku sungkan membuat orang lain sibuk, akhirnya aku coba mengatasi sendiri.

Sesaat kemudian, tiba-tiba datang suatu kejutan, sebuah mobil kijang datang dan berhenti didepan si biru, dan aku mulai kawatir, waduh semoga ngak berniat jahat, karena aku tahu jalanan ini sepi. Tapi ternyata bukan itu kejutannya, yang lebih mengherankan, sang bapak ini keluar dari pintu supir, langsung membawa tambang derek, loh kok seperti sudah dipersiapkan, dan dia langsung menghampiriku. Aku langsung melihat ke kekasihku, seakan ingin melihat pandangan dari raut wajahnya, karena dia pun kaget. Kok bisa tambang itu ada di depan jok. Si Bapak ini langsung bilang kepadaku, ayo sini diderek aja, bapak disini juga ngak ada siapa-siapa daripada nanti ada orang jahat. Aku sendiri takut, karena takutnya nanti aku diperas, dengan berbagai macam email dan cerita yang beredar tentang pemerasan dari mobil2 derek. Aku kemudian melihat wajah bapak ini sekali lagi, dan melihat kea rah mobil kijangnya, dari dalam ada 2 orang penumpang lagi, seorang ibu dan anak. Aku senyum kepada mereka, lalu aku merasa yakin, ini tidak akan ada apa apa. Dan mobil itu diderek sampai ke pertokoan ramai, dan bapak itu berhenti dan membuka tambang derek itu dan aku berkata terima kasih banyak, dari situ aku melanjutkan mengisi air yang banyak dan ternyata memang si biru telah bocor, jadi harus berhenti 7 kali untuk membuat si biru ini lepas dahaga. Dengan bantuan orang tuaku yang datang juga ke tempat karena sudah dekat rumah, dan aku harus segera ke airport, semua masih bisa tercapai dan selamat.

Tapi sepanjang perjalanan itu aku selalu teringat akan bantuan si bapak ini, dari rasa kawatirku menerima bantuannya karena pandangan dan pikiran-pikiran yang meracuniku yang seakan menganggap semua jadi negatif. Tapi kekawatiran memang perlu. Tapi bapak ini telah menunjukkan suatu pertolongan yang berarti bagiku.

Teringat aku dengan kisah yang aku alami juga, saat itu aku juga pulang sehabis motret wedding, dan itu sekitar jam 1 malam, saat itu di tol tomang-karawaci, aku yang terbiasa memacu mobil sampai mentok speednya, malam itu aku dapat pesan dari temanku, pesannya simple “vid, gua masih mau jadi temen elu… jangan ngebut…” Jadi malam itu aku ngak membuat si biru kerja keras, tapi aku masih sekitar 100-120 kmh dan ternyata ban depannya gembos… si biru kelimpungan, dan aku melihat ke arah kaca, melihat kearah belakang apakah ada mobil, dan ternyata cukup aman, aku berhasil memperlambat dan menepi. Kemudian aku mulai lah melihat, wow kena paku panjang, di jalan tol, yang lampunya tidak ada dan jam 1.30 pagi. Kemudian aku berusaha mengambil ban cadangan, wow kejutan di mulai, si ban cadangan ini ternyata juga sudah kurang angin, dan tidak mungkin aku pasang. Akhirnya dengan modal di jempol aku rada bertaruh meminta bantuan, aku mencoba menyetop mobil di jalan tol, terbayang dalam pikiran, kalau yang aku stop itu orang jahat sudah lah habis semua.

Tiba2 sekitar 5 menit aku berhasil mendapatkan satu mobil mendekat, dan pas mau berhenti mobil itu baru keluarkan jati diri aslinya, ternyata mobil polisi. Dalam hati aku pikir yaaaaa… kena deh. Trus pak polisi itu bertanya kepadaku, tentang apa yang terjadi, aku ceritakan semuanya, wah gimana ini jam segini susah panggil mobil derek, dan juga ngak ada kabel derek. Terus 2 polisi itu kemudian membuka bagasi mobil timornya, dan mengambil ban serepnya. Kemudian kita mulai mengoperasi si biru, memasang organ baru yang ternyata memang tidak sama ukurannya. Timor dan Soluna memang beda ukurannya. Tetapi karena darurat kita coba. Kemudian semua siap, kita berangkat, aku dan seorang polisi bersama si biru dan seorang polisi lagi di belakang mengikutiku. Dalam perjalanan itu pak polisi itu cerita, kamu tadi itu nekat, karena kalau orang jahat gimana? Habis kamu, harusnya telp dan diam di mobil dulu. Aku juga bilang yah, aku itu sungkan membuat orang lain sibuk, jadi aku pun ngak telp teman aku.

Selama menyetir, si pak polisi ini bilang kepadu, itu seat belt dilepas aja, karena ban kita ngak sama, kalau terjadi gesekan kita loncat. Aku masih bercanda, wah pak, kalau bapak loncat ke kiri bapak selamat, kalau aku loncat ke kanan pas ada mobil yang sama aja pak. Si Bapak ini tertawa, sambil bilang kamu ini sudah dapat musibah masih becanda aja. Akhirnya kita berhasil keluar tol di Serpong, kemudian mencari tukang tambal ban di pagi buta itu, dan kedua pak polisi itu juga sebanarnya ada tugas untuk mengatur kedatangan presiden, jadi dia berpesan ke si penambal ban, kamu lakukan semua dengan baik, dan jangan macam2, kalau sampai besok saya dengar kabar tidak baik tentang mobil dan bapak ini kamu akan saya cari. Wow malam itu aku kaget, ternyata dari kisah2 yang kebanyakan jelek tentang para polisi malam itu aku mendapatkan suatu penerangan yang membuatku tertegur, ternyata mereka berhasil menjadi lilin lilin kecil yang terus menerangi, yang terus menjadi pejuang tanpa nama, yang menunjukkan kebaikan tanpa pamrih.

Si penambal ban sampai bertanya kepada saya, pak kok bisa dibantuin polisi seperti itu, saya bilang mereka lah para lilin lilin kecil, yang selalu bersinar untuk memancarkan kasih dan kebenaran. Dari mereka lah aku bisa melihat lebih banyak nilai positif dari kehidupan ini.

Terima kasih pak polisi, terima kasih bapak pengendara mobil kijang yang telah memberikan suatu pandangan, bawah betapa pun buruknya suatu keadaan suatu masyarakat, di situ masih ada lilin lilin individu yang terus memancarkan sinarnya.

Kalian telah menanamkan sesuatu yang besar dalam perjalanan hidupku…

Di kala keadaan terang benderang, keberadaanmu tidak terasakan, tapi dalam keadaan gelap, cahaya kecilmu menjadi sumber harapan yang besar. Terima kasih kepada siapapun yang terus menjadi lilin lilin terang yang terus mengalirkan kasih bagi sesama.

Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia.

October 19th, 2008 by admin | 1 Comment »

Usia Tua

Teman setia sepanjang hidup kita adalah waktu, selalu ada dan menemani, dari kita lahir sampai menjadi tua, waktu tetap ada, dia tetap abadi sampai saatnya kita meninggalkan kehidupan duniawi.

Di pagi ini aku seperti biasa sang surya menyapaku, dengan hamburan sinar keemasan pagi dan sejuknya udara pagi, aku menjejakan kaki menuju taman. Seperti biasa aku menghabiskan waktuku di taman, untuk mendengarkan suara alam, suara burung berkicau dan juga mengamati mereka serta merekamnya dengan kameraku. Saat aku hendak menuju ke taman, aku bertemu dengan seorang ibu yang sedang duduk, usianya mungkin sudah 70-an tahun terlihat dari keriput yang membalut tubuhnya serta warna putih alami yang memenuhi rambutnya. Dia hendak menyeberang jalan dengan bawaan kardus2 bekas. Ibu tua ini berjalan perlahan mendorong kereta yang berisi kardus2 bekas, lalu kemudian menghampiri tempat2 sampah, untuk mengambil beberapa kardus bekas yang terdampar disana. Bis yang aku ingin tumpangi sudah datang, tapi aku terlalu terbawa suasana pagi perjalanan si ibu ini. Sehingga aku putuskan untuk menunggu bis berikutnya. Aku amati kegiatan ibu ini, dari cara berjalannya yang membungkuk, perlahan-lahan mendorong keretanya, mengaduk sampah dari tong sampah, mencari ‘harta’ terbuang.

Kejadian ini mengingatkanku sewaktu aku di Macau, juga mendapatkan kisah seperti ibu ini, sudah sangat tua, mungkin sudah 80 tahun, tapi harus berjuang dengan kesendiriannya mengumpulkan kardus2 bekas, demi kelanjutan hidupnya, dia berjalan pun sangat susah, tubuhnya sudah membungkuk sangat dalam, tulang2 sudah tidak kuat lagi.

Kehidupan begitu keras, aku yakin mereka pun punya family, mereka punya anak, sejenak pikiranku kembali berputar-putar mengeluarkan pertanyaan dan mencari jawabannya, kenapa bisa seperti ini?, dimana anak-anaknya? Mengapa sudah setua itu pun harus bekerja seperti ini?

Dimanakah kasih sang anak dan family, apakah memang begitu individualisnya kehidupan sekarang?

Dalam suatu perjalanan pulang sewaktu aku di kereta, aku berbincang dengan seorang tua, dia mengatakan kalau dia harus tetap bekerja di usia 65 tahun, dia sendiri harus mencari makan, dan dia bercerita kebanyakan teman-temannya juga sama harus sepeerti dia, lalu aku pun mulai bertanya bagaimana dengan anak2nya. Sang bapak ini menatapku, dia bilang, bukan anak2nya tidak mau mengurus mereka, tapi mereka juga tidak mau menyusahkan anak2 mereka. Hidup yang susah, apa-apa mahal, untuk menghidupi keluarga kecil sendiri saja sudah rumit sekali, jadi kasihan mereka jika harus juga mengurus orang tuanya.

Pikiranku terus berontak, tidak bisa ini, anak harus tetap memperhatikan orang tuanya, bagaimana pun juga mereka ada di dunia ini karena kedua orang tuanya. Tapi di satu sisi, apakah sebagai anak harus menutupi perasaannya karena seharusnya mereka mau tapi mereka tidak mampu untuk berbuat sehingga mereka seakan membiarkan para orang tuanya hidup sendiri?

Susah menerka dan menebak jalannya kehidupan ini, kondisi hidup yang susah, mengharuskan juga mempersiapkan biaya yang mahal untuk merawat anak kecil, dan kemudian harus melupakan orang tuanya. Dan para orang tua itu pun dengan kebesaran hati dengan tidak menuntu, “kamu bisa jadi sekarang karena aku” tapi menerima keadaan hidup ini. Kedua pihak saling menyimpan perasaan yang hanya mereka yang bisa mengerti, dengan segudang andai2 dan perumpamaan dengan segudang pertanyaan yang tidak terjawabkan, hal itu menjadi teman tidur dan pernungan hidupnya.

Kadang aku tidak tega melihat, petugas toilet membersihkan toilet sewaktu aku ada di dalamnya, mereka membersihkan wastafel dan toilet pria dengan tangan berbalutkan sarung tangan, menyeka dan mencucinya, sedangkan aku yang masih muda lalu membanjiri dan mengotori lagi.

Begitu pun sewaktu aku memesan makanan dan minuman, sang ibu tua membawakan minumanku dan aku cepat-cepat mengambilnya, dia lalu melihat kepadaku dengan mulut bergumam, tapi aku tidak mengerti bahasa yang diucapkan, karena aku tidak mengerti bahasa Chinese, tapi akhirnya dia memberi tahu aku, biarkan aku bawakan, dengan begini aku dapat uang, jika kamu tidak memberikan aku kesempatan ini, aku tidak mungkin diperkerjakan disini. Semenjak itu aku pun mengerti, dan berusaha memahami walau tidak tega tapi kubiarkan mereka menolongku. Dimana sebelumnya aku selalu berpikir kenapa haurs orang tua yang diperkerjakan kenapa tidak anak2 muda.

Bagi orang di usia tua seperti mereka tentu saja sulit untuk mencari pekerjaan, sehingga pekerjaan seperti mengumpulkan kardus bekas, mencuci dan membersihkan piring di food court serta juga membersihkan toilet menjadi pilihan pekerjaan yang masih bisa mereka lakukan. Itu untuk terus melangsungkan kehidupannya.

Mungkin kita berkata, salah sendiri kenapa tidak menabung dari dulu, atau salah sendiri kenapa tidak mendidik anak agar menghargai orang tua. Tapi mungkin kita bisa lebih bisa mengerti keadaan mereka dan tidak menghakimi dengan berkata demikian, mereka sudah susah, mungkin kita bisa lakukan sesuatu untuk mereka. Setiap orang punya pemikiran berbeda dalam menjalani kehidupannya, dan kita tidak bisa mengerti dan memaksakan pemikiran kita kepada mereka.

Aku pun berpikir, semoga aku bisa membalas budi baik dan berbakti pada orang tua ku, menghargai mereka, dan membiarkan mereka untuk menikmati hari tuanya.

September 17th, 2008 by admin | 7 Comments »

Bangku

Siang itu sehabis pulang kerja, aku menggunakan kereta MRT untuk menuju tempat tinggal sementaraku, pemandangan dan pengalaman seru selalu terjadi saat pintu kereta terbuka, jika kereta tidak terelalu penuh maka ada peluang bangku kosong. Saat itu para penumpang yang berdiri di luar, berusaha cepat-cepat masuk seakan berlomba mendapatkan trophy ‘bangku’. Kadang penumpang yang didalam belum keluar pun sudah terdesak masuk lagi karena antrian dari luar yang memaksa masuk. Hal ini merupakan rutinitas perjalanan sehari-hari.

Dan di tiap lorong itu ada beberapa bangku yang memang dikhususkan utk wanita hamil dan para orang tua. Dan biasanya bangku ini pun sudah penuh terisi.

Dalam kereta ini bercampur aduk lah sifat masing2 orang, ada yang membawa tas ransel tidak menaruhnya dibawah, tapi tetap dipunggungnya dan seakan kereta itu ‘rumahnya’ sehingga dia bebas saja maju mundur, padahal sang tas itu menekan para penumpang lainnya, dan dia malah cuek saja, merasa saya ‘bayar’. Ada juga yang dengan santainya tidur dengan kaki menjulur panjang sehingga menghalangi orang yang hendak melaluinya. Ada lagi dengan cueknya tetap membaca buku sambil berdiri, dimana kadang buku dan surat kabar itu akan memakan tempat sendiri dan membuat ruang semakin kecil. Blum lagi yang tidur dengan nyenyaknya, kapala mulai saling bermain irama, mengikuti arah kantuk, untung-untung tidak ada air liur yang ikut bernyanyi.

Kembali lagi saat acara masuk ramai2 itu, setelah sekitar 3 detik, maka akan terlihat wajah-wajah penuh kemenangan, dengan berhasil mendapatkan ‘trophy bangku’ dan ada yang tersenyum karena kalah mendapatkan si bangku dan kemudian berdiri. Seakan itu menjadi suatu permainan yang selalu menemani perjalanan dengan kereta.

Suatu waktu aku cukup beruntung karena mendapatkan bangku kosong, aku duduk dan manaruh tasku dibawahnya, lalu kereta mulai berjalan lagi menghampiri perhentian selanjutnya dan mulailah banyak orang masuk lagi, kuperhatikan seorang tua masuk dan aku berusaha mencari arah pandang kepadanya berharap matanya untuk melihat ke arahku, dan ternyata berhasil dan aku mulai menawarkan si bangku ini kepadanya, dia menggelengkan kepala sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Aku berpikir mungkin tujuaannya sudah mau sampai, sehingga dia menolak, tapi setelah 4-5 perhentian, dia tidak turun juga, lalu mungkin aku berpikir oh dia itu sungkan, dan aku berpikir, jika aku ditawarkan bangku mungkin aku akan seperti dia, menolaknya dengan halus (sejauh ini sih blum ada yang nawarin).

Sehingga di lain kesempatan caraku lain lagi, aku langsung berdiri dan mempersilahkan si orang tua duduk, dan kadang aku membimbingnya langsung. Dia berterima kasih dan saat bangku sebelahnya kosong, dia lalu menjaga di bangku kosong itu lalu memanggilku cepat2 sehingga berharap aku duduk disitu.

Kisah ini mengingatkan ku juga sewaktu perjalanan ke Badaling, Great Wall, saat itu perjalanan naik bus umum, dan sang kondektur seorang perempuan, waktu itu aku sedang tertidur didalam bus, ternyata bus mulai penuh sesak, dan aku pun terpisah duduk dengan sang kekasih. Ternyata saat itu ada seorang ibu dan anak kecil masuk, ibu itu hamil, dan si kondektur itu sudah teriak2 untuk memberikan tempat duduk bagi si ibu ini, karena aku tadinya tertidur dan juga aku tidak mengerti apa yang dia teriakin karena bahasa mandarin, tapi begitu aku tersentak bangun, aku melihat ibu ini dan langsung berdiri, aku memberikan bangku yang nyaman itu kepadanya, padahal perjalanan masih jauh juga, dan bawaanku cukup berat, tas ransel dengan kamera dan teman2nya. Aku berdiri desak2an dan si kondektur bilang kepadaku ‘xie-xie’ terima kasih. Aku Cuma tersenyum dan dia berusaha mengajak aku ngobrol dalam bahasa Chinese, aku Cuma berkata ‘wo pu ming pai, wo pu chiang chung wen’ yah kata2 itu lah yang selalu jadi senjata pamungkas ku saat di China, yang artinya, ‘aku tidak mengerti, aku tidak bisa ngomong Chinese’. Dan dia mulai berkata lagi yang menanyakan aku ini dari mana, aku lupa kata2nya tapi aku ngerti maksud pertanyaan itu karena sudah terbiasa ditanyakan, aku bilang ‘In-ni’ artinya Indonesia.

Lanjut perjalanan dan aku semakin terdesak kebelakang, tiba tiba si kondektur berteriak2 lagi, waduh apa lagi nih, dan semua mata orang menuju ke aku, sang kekasih malah ketawa-ketawa, mati aku, apa kali ini, aku ngak ngerti tapi kok semua mata ke aku, ternyata, si kondektur itu dengan wajahnya yang ceria dan semangat, menyuruh orang2 membuka jalan untuk aku lewat, dia sebenarnya sudah memanggilku dari tadi tapi aku tidak mengerti, dan akhirnya dia terus terobos dan berusaha menarikku. Jadilah semua mata terpandang ke aku, dan ternyata dia mendapatkan satu bangku kosong yang sudah ditinggalkan pemiliknya, dan dia menjaga bangku itu tidak untuk orang lain, tapi sudah di reserve untuk ‘sang pemenang’.  Aku dengan malu2 dan senyum2 berusaha menolak tapi semua orang malah seakan menyuruhku duduk, mungkin mereka melihat kalau aku telah memberikan ‘trophy’ ku sebelumnya kepada ibu hamil dan anaknya, jadi mereka rasa aku layak mendapatkan si ‘trophy bangku’ ini.

Akhirnya karena seakan didaulat, yah aku menghampiri pialaku yang biasanya piala itu digenggam, tapi ini malah aku kasih pantat, diduduki. Dan si kondektur dengan wajah puasnya ketawa dan aku berkata ‘xie xie’. Sang kekasih pun tertawa-tawa melihat wajah kebingunganku. Ternyata bahasa ‘bangku’ itu bisa diterapkan dengan mudah.

Minggu lalu pun aku sedang duduk di kereta MRT, dan seorang ibu tua datang, kemudian aku berikan tempat duduk, dan dia senang sekali kemudian saat dia mencapai tujuannya, dia memberikan kembali tempat duduk itu, tapi ternyata penumpang disebelahnya yang sebenarnya tahu aku memberikan bangku itu, tidak dengan mudah menyerahkan bangku itu kembali kepadaku, dia merebutnya dan menyuruh anaknya yang sebenarnya sudah sharing satu bangku dengan dia untuk duduk, aku hanya tersenyum sementara si ibu menggurutu dan melihat kepadaku berkata dalam Chinese, karena aku tidak mengerti aku tersenyum, aku tahu pasti si ibu itu mau bilang sesuatu ttg penumpang sebelahnya. Tapi aku tetap tersenyum dan ternyata bangku diseberangnya kosong, aku tawarkan lagi kepada penumpang yang berdiri dan mereka menolak dan aku duduk, jujur saja saati itu aku dalam kondisi lelah pulang keliling berjalan menyusuri national park.

Kadang aku pun saat benar2 lelah tertidur dan tidak mengetahui kalau ada didepanku ada ibu hamil, karena kebanyakan ibu2 hamil pun disini susah mendapatkan tempat duduk, sehingga ku saat terjaga, pun menawarkan tempat duduk, tapi ibu itu menolaknya dan aku tetap berdiri, membiarkan ibu itu duduk, wow suatu hal yang tidak diduga, saat ibu itu hendak menduduki, ternyata sang ‘trophy’ ini begitu berharga bagi orang lain, seorang pemuda dengan gagahnya merengkuh si bangku, seluruh mata pun terpandang kepadanya, dia dengan cueknya tetap saja merasa tak bersalah, padahal aku masih baru berdiri dan melihat pialaku yang seharusnya kuberikan kepada seseoang yg layak malah direbut orang lain, mungkin si bangku kalau bisa menolak akan menolak.

Ada juga suatu kesempatan karena bangku yang sudah ada sign priority, yang menganjurkan diberikan kepada orang yg membutuhkan, tapi karena banyak juga orang yg ngak rela memberikannya sehingga suatu waktu aku melihat seorang tua menggerutu saat si orang yg duduk disitu hendak keluar, mungkin si nenek ini berkata itu kursi harusnya untuk orang tua. Tapi memang tidak bisa disalahkan karena itu merupakan anjuran. Tergantung orang untuk berbaik hati atau tidak.

Suatu awal pagi, di saat aku memberikan bangku yang aku duduki kepada seorang bapak tua, kemudian aku berdiri, seseorang yang melihat hal itu mendekatku dan berkata “terima kasih, semoga Tuhan memberkati”. Dari satu bangku aku mendapatkan suatu berkat serta bisa membagikan berkat.

Bangku,

Saat kau kosong, kau terlihat cantik
Tapi saat itu kau merasa sepi
Saat kau terisi, kau tidak lagi terlihat
Tapi saat itu kau berharga.

August 25th, 2008 by admin | 2 Comments »

Persahabatan

Suatu aku melihat keluar jendela bus, aku melihat suatu pemandangan yang membuatku terkesima dan hendak memberhentikan bus ini, tapi hal itu susah juga. Saat itu aku hendak pulang ke singgahan sementara di Penang, Malaysia.

Pemandangan ini membayangiku terus, kemudian aku putuskan untuk datang lagi minggu depan, ke tempat ini pada jam yang sama, yah jam 12 siang hari dimana terik matahari menemani kulit-kulitku.

Penantianku selama sejam, hampir membuatku putus asa, aku hanya duduk di emperan pusat perbelanjaan, ditemani para penarik becak (Trishaw), dan sesaat aku hendak memutuskan pulang, akhirnya aku bertemu dengan mereka lagi, yah 2 manusia yang membuatku terkesima dan membayangkannya selama seminggu. Yah aku tahu ini pasti bukan minggu lalu saja mereka berjalan berdua seperti itu, tapi pasti sudah kegiatan rutin mereka. Karena mereka sama-sama menjual makanan2 kecil, mereka pasti melakukannya di pagi hari, dan siang hari mereka selesai berdagang.

Aku terkesan dengan persahabatan yang terjalin akan keduanya, dan betapa hebat kasih yang diberikan seorang teman kepada temannya yang cacat, bagi yang lumpuh, mungkin dia akan kesusahan setiap hari untuk pergi ke tempat menjajakan danganganya, tapi aku tahu pun dia tidak menyerah akan keadaanya, tapi juga temannya, sangat mulia usahanya, mungkin kalau dia mau, dia bisa saja pergi sendirian ke tempat itu dan pulang dengan lebih santai dan cepat, tapi dia menunjukkan sesuatu yang besar, yang bisa membuka mata hati beberapa orang yang melihatnya, termasuk mata hatiku sendiri. Dia menemani dan membantu temannya yang cacat untuk pergi berduaan, mengayuh sepeda (becak) yg dibuat untuk berdagang sambil beriringan dengan si cacat.

Tali persahabatan yang terjalin antar keduanya cukup membuatku untuk mengerti arti persahabatan yang lebih dalam lagi, seorang sahabat mau mengorbankan hidupnya untuk sahabatnya.

Para sahabatku, terima kasih menjadi sahabatku selama ini, maafkan aku yang belum bisa mengartikan benar arti persahabatan, mungkin aku hanya mau bersahabat jika orang tersebut memberikan keuntungan buatku, jika aku ingin sesuatu darinya, jika aku ingin memanfaatkannya, atau karena kedudukannya, karena popularitasnya, hanya bersahabat kepada orang yang terus menerus mendukung pendapatku.

Tapi seorang sahabat akan berani menegur, berani memarahi, berani membentak jika kita salah, membuat kita terbangun dari perbuatan kita yang salah, dan teguran itu memang akan membuat kita berpikir singkat dia bukan seorang sahabat, tapi setelah kita berpikir lebih jauh, kita akan mengetahui teguran itu hanya bisa dilakukan oleh seorang yang sayang dan perhatian dengan kita, yah seorang sahabat.

seorang sahabat tidak akan menanyakan kita perlu bantuan atau tidak, tapi ia akan hadir disaat kita butuh bantuan, dia akan datang tanpa di minta.

August 23rd, 2008 by admin | 1 Comment »