Penjual Mie
Pengalaman ini kira-kira setahun yang lalu, saat waktu aku di China, sudah lama aku ingin menuliskan pengalaman ini, tapi baru sekarang tertuangkan ke dalam tulisan. Saat itu aku bilang kepada istriku, kalau nanti sabtu bangun pagi, kita jalan jalan ke pasar basah, ngak jauh kok jalan kaki kataku, Karena setiap pagi ke kantor dengan mobil seperti taxi gelap, tapi dengan setia si taksi ini mengantarku dari pintu gerbang apartment, walau aku tidak bisa berkomunikasi dengannya, tapi karena dia sudah tahu aku mau kemana, jadi yah sudah saling terbentuk bahasa antar aku dan si supir, dan selama perjalanan inilah aku selalu mengamati pasar basah yang aku ingin untuk mampir dan jalan jalan disitu.
Jadilah rencana ini terlaksana, suhu saat itu sekitar 0 sampai -5 derajat celcius, dingin sekali, jadi badanku jadi gemuk karena lapisan baju, dan bersama istri berjalan ke pasar, wow senangnya melihat transaksi jual beli mengingatkan keadaan di Jakarta, masa masa kecil berjualan di pasar palmerah, dimana masih pasar traditional, terkenang aku dengan nenek dan kakekku yang berjualan di pasar, dan aku selalu membantu membuatkan kantong belanjaan dari kertas dengan lem tepung kanji.
Perlahan aku melihat transaksi yang terjadi, wow pasar ini lengkap dari yang basah2, ikan, ayam, daging segar, sampai buku, baju pun ada, yang lebih bikin aku kaget, transaksi baju langsung jahit pun bisa terjadi di pasar ini. Dan juga barang2 bekas pun banyak. Suhu yang dingin tidak membuat mereka terganggu, sayur-sayur dan buah2-an itu segar segar, tidak tahan untuk tidak membelinya. Perasaan ini tidak aku dapatkan kalau aku belanja di pusat perbelanjaan besar, walau barangnya lebih lengkap dan mungkin lebih bagus, aku lebih merasa bebas dan nyaman disini. Untungnya istri pun suka juga jalan jalan di pasar basah dan juga pasar malam.
Sesaat melewati tukang jualan ayam potong, ada anak kecil duduk di depan kerangkeng ayam, jadi teringat masa kecil dulu waktu diajak mama ke pasar, aku pun demikian senang melihat ayam2 ini, tapi benarnya kasihan ayam2 itu karena menunggu nyawanya tercabut, sekarang aku rada sedih kalau melihat seperti itu.

Kebanyakan dari mereka sudah cukup tua juga, tapi semangat mereka besar sekali, melihat kesetiaan suami istri, yang berjalan begandengan, serta mengendarai gerobak, dimana sang istri duduk di dalam gerobak, sang suami mendorong tau mengayuh sepedanya, sungguh suatu makna kesetiaan yang mungkin sekarang sudah jarang terlihat lagi. Semua itu bisa aku saksikan di pagi hari di pasar ini, sungguh pelajaran berharga, dalam hati aku pun berguman, ah aku juga mau tetap menjaga istriku seperti si kakek tersebut.
Sampai akhirnya aku mulai lapar, biasa memang perut ini harus diisi untuk makan pagi, apalagi suasana dingin sekali seperti ini, dan sesaat melewati penjual mie, aku yang melirik istriku, dia pun tahu kalau aku suka jajanan seperti ini, dimana pun aku pergi aku suka makan di pinggir jalan, walau katanya kurang bersih, tapi aku malah selalu ingin mencoba makanan seperti ini.
Sebelum memesan aku melihat sang suami istri ini berjualan, dan mengamatinya, aku lihat jari-jari tangannya sudah bengkak, memerah, karena cuaca dingin, dan dia terpaksa tidak pakai sarung tangan, sehingga aku tahu benar betapa sakitnya itu kulit. Aku berdiri di samping tempat masaknya, hangat disitu, dan lebih dekat lagi mengamati cara mereka membuat mie itu, dari tepung yang diambil segenggam kemudian ditarik tarik, kemudian terbentuklah mie ayam itu, sungguh proses yang menarik, tidak disangka hanya dengan ditarik kok bisa jadi sama ukurannya, dan itu aku amati terus, sambil senyum kepadanya aku meminta ijin untuk mengabadikan mereka melalui kameraku, dan mereka tertawa, orang lain pun jadi bergerumul mungkin mereka pikir wah ada wartawan nyasar, tapi aku dengan senang memotret karena mereka mengijinkannya. Lalu kami memesan mie itu, mereka sangat senang karena mereka tahu kami ini orang asing dan mau mencoba mie mereka.
Sang istri mempersilahkan kami duduk kemudian si suami memasak mie, sambil menunggu aku mlihat meja yang sederhana ini, ada sumpit kayu yang cukup berumur serta juga si ibu memberikan kami segelas air hangat, lumayan untuk memanaskan jari tangan. Semangkuk mie itu datang, dengan telur didalamnya, wow dingin dingin seperti ini makan mie yang hangat ah enaknya, tanpa banyak daging mungkin hanya 1-2 potong daging, rasa yang cukup bagiku untuk sarapan pagi, dan mereka senang aku menikmati mie ini.
Bagiku senyum mereka, dimana aku menghargai makanan mereka itu menjadi suatu hal berharga yang aku dapatkan pagi itu, aku rasa demikian dengan mereka, aku duduk disitu, dan mengamati mereka, semangkuk mie itu 3,5 RMB (Rp 5,500), cukup besar dan murah untuk harga makanan disana, dan untuk itu si penjual aku lihat selama kurang lebih 1 jam aku disitu memperhatikannya tidak begitu banyak yang makan, mungkin sekitar 10-15 orang. Jadi perjuangan yang sangat berat juga bagi mereka, karena di cuaca dingin seperti ini, kulit tangan terluka, muka yang sudah memerah, jari-jari tangan membengkak. Ah semua itu membuat aku terlecut untuk tidak mudah menyerah, tidak mudah putus asa, sabar, semua orang berjuang dengan carany asendiri untuk tetap hidup.
Pekerjaanku pun demikian, semakin susah, sering aku menggerutu, ah ini bukan salahku, kenapa jadi bagian kerjaanku, itu semua harusnya bisa diselesaikan oleh team lain, kenapa harus aku yang bersihin perkerjaan ini, tapi lama lama aku berpikir aku harus berterima kasih juga, keadaan ekonomi makin susah, pekerjaanpun makin susah, kalau mereka semua bisa menyelesaikan dengan baik, tidak ada kesalahan-kesalahan, tidak ada error-error lagi, mungkin aku sudah tidak ada lagi disini. Jadi aku pun mulai menerima dan berguman dalam hati untuk berterima kasih atas banyaknya kesalahan ini, karena dengan demikian aku masih dibutuhkan. Aku mulai menerima semua itu, dan melakukan dengan baik apa yang bisa aku lakukan. Aku masih duduk ditempat yang bagus, ada penghangat ruangan di kala cuaca dingin, semua sebenarnya sudah sangat mencukupi, mengapa aku masih menggerutu? Mengapa aku tidak belajar mensyukuri keadaanku dan berterima kasih kepada Tuhan atas berkatNya.
Ah penjual mie, terima kasih atas kisahmu, tanpa kalian sadari, kalian telah memberikan pelajaran berharga, keuntungan materil yang kalian dapat mungkin kecil sekali, tapi dengan seharga 3,5 RMB kalian sebenarnya telah menjual suatu ‘pelajaran berharga tentang kehidupan yang tiada ternilai harganya’.
November 17th, 2008 by admin | No Comments »
Teringat aku dengan kisah yang aku alami juga, saat itu aku juga pulang sehabis motret wedding, dan itu sekitar jam 1 malam, saat itu di tol tomang-karawaci, aku yang terbiasa memacu mobil sampai mentok speednya, malam itu aku dapat pesan dari temanku, pesannya simple “vid, gua masih mau jadi temen elu… jangan ngebut…”
Terima kasih pak polisi, terima kasih bapak pengendara mobil kijang yang telah memberikan suatu pandangan, bawah betapa pun buruknya suatu keadaan suatu masyarakat, di situ masih ada lilin lilin individu yang terus memancarkan sinarnya.
Teman setia sepanjang hidup kita adalah waktu, selalu ada dan menemani, dari kita lahir sampai menjadi tua, waktu tetap ada, dia tetap abadi sampai saatnya kita meninggalkan kehidupan duniawi.
Kehidupan begitu keras, aku yakin mereka pun punya family, mereka punya anak, sejenak pikiranku kembali berputar-putar mengeluarkan pertanyaan dan mencari jawabannya, kenapa bisa seperti ini?, dimana anak-anaknya? Mengapa sudah setua itu pun harus bekerja seperti ini?
Kadang aku tidak tega melihat, petugas toilet membersihkan toilet sewaktu aku ada di dalamnya, mereka membersihkan wastafel dan toilet pria dengan tangan berbalutkan sarung tangan, menyeka dan mencucinya, sedangkan aku yang masih muda lalu membanjiri dan mengotori lagi.
Mungkin kita berkata, salah sendiri kenapa tidak menabung dari dulu, atau salah sendiri kenapa tidak mendidik anak agar menghargai orang tua. Tapi mungkin kita bisa lebih bisa mengerti keadaan mereka dan tidak menghakimi dengan berkata demikian, mereka sudah susah, mungkin kita bisa lakukan sesuatu untuk mereka. Setiap orang punya pemikiran berbeda dalam menjalani kehidupannya, dan kita tidak bisa mengerti dan memaksakan pemikiran kita kepada mereka.






