Jika kamu sabar, kamu akan bisa melihat lebih jauh
Malam itu aku berdiam diri di kamar apartment di Hong Kong, ditemani sang jarum jam yang terus menerus berdetak, tapi apa daya, kamar ini yang AC-nya sudah aku matiin tapi masih dingin, karena tidak adanya heater, sehingga sangat dingin, membuatku kedinginan, lebih baik keluar rumah, sushu diluar sekitar 15 derajat celcius bisa terasa lebih hangat.
Akhirnya aku putuskan untuk pergi keluar dan menuju tempat istriku yang sedang kerja lembur karena mengejar target.
Dengan tidak lupa ditemani kamera, akhirnya aku pergi ke daerah Mong Kok, tempat yang sangat ramai sekali, dan aku kemudian berjalan menyaksikan suasana jual beli, dan ramainya orang berlalu lalang. Aku menjumpai beberapa pengemis, mereka sudah tua renta, dan aku bisa bayangkan betapa dinginnya dan seorang ibu yang kerap berlutut, aku terdiam disitu, aku mengamatinya, dan aku tahu cuaca yang dingin ini sangat menusuk baginya, dan saat Ia terlihat capek menggoyangkan tangan-tangannya untuk meminta-minta dan menarik perhatian, badannya dibungkukkan, sehingga posisi berlutut ini seperti posisi menyembah dalam berdoa, dan aku lihat dia menaruh beberapa selimut sebagai alas lututnya, dan saat itu ia hendak memperbaiki posisinya, ia pun kesulitan karena mungkin terlalu lama berlutut. Ah aku yang mengamati dari jauh hanya bisa berkata dalam hati, betapa sulit hidup ini, dan aku tahu untuk usianya yang sudah tua seperti itu susah untuk mencari pekerjaan.
Lalu kemudian aku berjalan-jalan dan memberi minuman serta makanan kecil, hendak aku tawarkan makanan itu, tapi si ibu ini kayaknya menghindar, jadi akhirnya aku tidak jadi menawarkannya karena melihat respon tatapan matanya aku tahu dia mengatakan tidak mau, jadi aku hanya berdiri di sekitarnya memberikan uang dan juga tersenyum padanya.
Kemudian aku meninggalkannya, dalam perjalanan keliling itu aku menemui banyak sekali orang-orang berjualan, dan juga orang-orang yang berusaha mengumpulkan uang dari melakukan sesuatu seperti akrobat, kepintaran mengolah tubuh, menyanyi dan juga ada yang membawa seekor anjing yang menemaninya menanyai, ada pula yang melakonkan dirinya menjadi patung. Dan tersedia tempat untuk menampung uang pemberian para penonton.
Melihat itu semua aku sungguh tersentuh, aku teringat sewaktu aku di Taipei sekitar tahun 1999 dimana aku melihat banyak anak-anak sekolah berjuang utnuk biaya sekolahnya, berjualan di pasar malam dengan kreatifitas2 mereka membuat mainan-mainan atau souvenir-souvenir kecil. Dan juga aku bertemu para siswa Indonesia disana yang berjualan sate ayam yang cukup laris, tapi itu pun harus kejar-kejaran dengan polisi (pihak keamanan) karena memang tidak diperkanankan dan mereka juga hanya dapat visa pelajar bukan untuk bekerja/bisnis.
Mereka berjuang untuk kelanjutan sekolah mereka dengan tidak membebani orang tua mereka dengan biaya yang tidak kecil.
Kembali ke suasana jalanan di Mong Kok ini, aku berjalan mencari makanan yang lebih besar porsinya karena lapar, mungkin karena dingin, sewaktu aku hendak menuju ke KFC, aku terhenyak, karena aku bertemu bapak ini di tengah jalan, bapak ini cacat, tidak mempunyai tangan, dia duduk di pinggir jalan, dan menuliskan kata-kata indah dalam bahasa China dalam sebuah lembar kertas besar.
Aku lupakan rasa lapar itu, aku berdiri di dekatnya, memperhatikannya, dia menuliskannya semua kata-kata indah itu dengan mulut dan kakinya, aku perhatikan bagaimana dia menuliskannya menggunakan mulut, mengambil kuas dan mencelupkan ke tinta serta mulai menuliskannya. Serta juga menggunakan kaki-kakinya untuk menuliskan kata kata indah, Jari-jari kakinya dengan telaten menggenggam kuas kemudian menuliskan kareakter-karakter tulisan China tersebut, satu huruf demi satu huruf, dan juga tulisan yang cukup kecil ukurannya pun ia bisa lakukan dengan kakinya. Aku tertegun dan aku berjongkok disitu, orang orang banyak mengeruminya, dan aku tahu kehadiranku dirasakan oleh bapak ini.
Kemudian dia mengajak aku bicara tapi aku tidak bisa berbahasa Chinese, Ia hendak memberikan lembaran itu kepadaku, tapi aku ragu untuk maju karena aku baru sampai disitu, sehingga orang lain mengambil lembaran tulisan itu.
Satu-satu lembaran yang dia tuliskan itu diberikan kepada orang-orang yang menontonnya, dan aku yang terus jongkok disekitarnya terus memperhatikannya dan karena masalah bahasa yang kita hanya saling pandang dan senyum dan aku meminta ijin memotretnya. Lalu dia memberikan satu lembaran untukku yang aku simpan sampai sekarang, suatu kenangan indah dari seseorang yang akan selalu mengingatkanku kalau ini dihasilkan dengan suatu perjuangan yang tidak mudah, ia menuliskan dengan mulut dan kakinya, tidak menyerah dengan keadaan yang ia alami tapi terus membagikan berkat lewat tulisan-tulisan kepada orang banyak.
Lembaran yang aku dapat itu berkata “Jika kamu sabar, kamu akan bisa melihat lebih jauh”. Suatu kata yang penuh arti perenungan.
Kemudian ada seorang bapak tua memberikan secarik kertas untuk dituliskan oleh si bapak ini, dan memberikan uang 10 Hong Kong dollar, lalu mulailah si bapak ini mengalihkan lembaran yang sedang ditulisnya dan menaruh disampingnya dan kemudian memulai lembaran baru, dia kemudian menggunakan mulutnya mencelupkan kuas ke tinta dan kemudian mengeringkan sebentar dan mulai melukis, semua perhatian orang-orang tertuju ke sentuhan kuas ke kertas lembaran itu, dengan telaten bapak ini membuatnya, aku berada didekatnya menjaga juga lembaran yang lain tidak terhembus angina serta uang-uang yg diberikan oleh para penonton itu tidak berterbangan.
Kemudian dia menambahkan kata-kata kecil yang aku pun tidak mengetahui artinya melalui sentuhan jari jari kakinya.
Tiba-tiba datang 3 orang polisi dan menyuruh bapak ini untuk bubar, aku dan seorang pemuda berusaha melindungi bapak ini, serta bapak tua yang sedang dituliskan namanya, aku berusaha bilang kepada bapak polisi kalau biarkan dia selesaikan lembaran terakhir itu, dan kasih kesempatan bapak ini untuk berkarya disini. Tapi apa daya polisi tersebut tidak mengerti bahasa Inggris dan aku pun tidak bisa berbahasa Chinese, dan akhirnya sang pemuda itu pun berbicara dengan pak polisi, dan terharunya para penonton itu mengelilingi dan melindungi bapak ini, tidak membiarkan polisi menyentuhnya dan mengusirnya. Tapi si bapak ini dengan bijaksana menurut, dia berkata karena memang dia berkarya di pinggir jalan, jadi dia bersedia untuk minggir.
Setelah tulisan itu kelar dan bapak ini memberikannya kepada orang yg meminta dituliskan, lalu orang tersebut bersalaman dan minta berfoto bareng sebagai kenangan.
Ah indah nian kejadian ini, terus bapak ini kemudian merapikan satu-satu, sedikit-sedikit aku bantu, tapi bapak itu seakan berkata tidak usah, ngak apa apa, tapi uang berserakan karena angin telah terkumpul rapi dan bapak itu memasukannya dalam tas, dia tetap duduk di pinggiran dan mulai mengeluarkan rokok melalui kakinya dari saku bajunya. Dan mulai dia merokok, dan aku masih disitu duduk berdekatan dengannya, dan dari orang-orang di sekitar itu aku mengetahui permasalahnnya, kalau ternyata polisi itu diminta oleh seseorang yang usahanya terganggu karena perhatian orang banyak tercurah kepada bapak ini, karena memang bapak ini berkarya di pinggir jalan, dan seakan menutupi toko di belakangnya…. Ah sungguh ironis sekali harus mengusir seorang yang berjuang dengan susah payah untuk mencari nafkah dengan menggunakan kepandaian kaki dan mulutnya untuk menulis kata-kata indah….
Akhirnya jam telah menunjukkan jam 11.30 malam, aku pamitan kepadanya pulang, dan kubawa lembaran itu hati-hati sekali, lembaran yang akan kuingat karena kisah dibalik pembuatannya, penuh kisah pembelajaran bagi kehidupan agar tidak mudah menyerah dan selalu berusaha bagaimanapun kesulitan yang kita hadapi.
Perlahan aku melihat transaksi yang terjadi, wow pasar ini lengkap dari yang basah2, ikan, ayam, daging segar, sampai buku, baju pun ada, yang lebih bikin aku kaget, transaksi baju langsung jahit pun bisa terjadi di pasar ini. Dan juga barang2 bekas pun banyak. Suhu yang dingin tidak membuat mereka terganggu, sayur-sayur dan buah2-an itu segar segar, tidak tahan untuk tidak membelinya. Perasaan ini tidak aku dapatkan kalau aku belanja di pusat perbelanjaan besar, walau barangnya lebih lengkap dan mungkin lebih bagus, aku lebih merasa bebas dan nyaman disini. Untungnya istri pun suka juga jalan jalan di pasar basah dan juga pasar malam.
Sebelum memesan aku melihat sang suami istri ini berjualan, dan mengamatinya, aku lihat jari-jari tangannya sudah bengkak, memerah, karena cuaca dingin, dan dia terpaksa tidak pakai sarung tangan, sehingga aku tahu benar betapa sakitnya itu kulit. Aku berdiri di samping tempat masaknya, hangat disitu, dan lebih dekat lagi mengamati cara mereka
Sang istri mempersilahkan kami duduk kemudian si suami memasak mie, sambil menunggu aku mlihat meja yang sederhana ini, ada sumpit kayu yang cukup berumur serta juga si ibu memberikan kami segelas air hangat, lumayan untuk memanaskan jari tangan. Semangkuk mie itu datang, dengan telur didalamnya, wow dingin dingin seperti ini makan mie yang hangat ah enaknya, tanpa banyak daging mungkin hanya 1-2 potong daging, rasa yang cukup bagiku untuk sarapan pagi, dan mereka senang aku menikmati mie ini.
Pekerjaanku pun demikian, semakin susah, sering aku menggerutu, ah ini bukan salahku, kenapa jadi bagian kerjaanku, itu semua harusnya bisa diselesaikan oleh team lain, kenapa harus aku yang bersihin perkerjaan ini, tapi lama lama aku berpikir aku harus berterima kasih juga, keadaan ekonomi makin susah, pekerjaanpun makin susah, kalau mereka semua bisa menyelesaikan dengan baik, tidak ada kesalahan-kesalahan, tidak ada error-error lagi, mungkin aku sudah tidak ada lagi disini. Jadi aku pun mulai menerima dan berguman dalam hati untuk berterima kasih atas banyaknya kesalahan ini, karena dengan demikian aku masih dibutuhkan. Aku mulai menerima semua itu, dan melakukan dengan baik apa yang bisa aku lakukan. Aku masih duduk ditempat yang bagus, ada penghangat ruangan di kala cuaca dingin, semua sebenarnya sudah sangat mencukupi, mengapa aku masih menggerutu? Mengapa aku tidak belajar mensyukuri keadaanku dan berterima kasih kepada Tuhan atas berkatNya.
Teringat aku dengan kisah yang aku alami juga, saat itu aku juga pulang sehabis motret wedding, dan itu sekitar jam 1 malam, saat itu di tol tomang-karawaci, aku yang terbiasa memacu mobil sampai mentok speednya, malam itu aku dapat pesan dari temanku, pesannya simple “vid, gua masih mau jadi temen elu… jangan ngebut…”
Terima kasih pak polisi, terima kasih bapak pengendara mobil kijang yang telah memberikan suatu pandangan, bawah betapa pun buruknya suatu keadaan suatu masyarakat, di situ masih ada lilin lilin individu yang terus memancarkan sinarnya.
Teman setia sepanjang hidup kita adalah waktu, selalu ada dan menemani, dari kita lahir sampai menjadi tua, waktu tetap ada, dia tetap abadi sampai saatnya kita meninggalkan kehidupan duniawi.
Kehidupan begitu keras, aku yakin mereka pun punya family, mereka punya anak, sejenak pikiranku kembali berputar-putar mengeluarkan pertanyaan dan mencari jawabannya, kenapa bisa seperti ini?, dimana anak-anaknya? Mengapa sudah setua itu pun harus bekerja seperti ini?
Kadang aku tidak tega melihat, petugas toilet membersihkan toilet sewaktu aku ada di dalamnya, mereka membersihkan wastafel dan toilet pria dengan tangan berbalutkan sarung tangan, menyeka dan mencucinya, sedangkan aku yang masih muda lalu membanjiri dan mengotori lagi.
Mungkin kita berkata, salah sendiri kenapa tidak menabung dari dulu, atau salah sendiri kenapa tidak mendidik anak agar menghargai orang tua. Tapi mungkin kita bisa lebih bisa mengerti keadaan mereka dan tidak menghakimi dengan berkata demikian, mereka sudah susah, mungkin kita bisa lakukan sesuatu untuk mereka. Setiap orang punya pemikiran berbeda dalam menjalani kehidupannya, dan kita tidak bisa mengerti dan memaksakan pemikiran kita kepada mereka.



