Bangku
Siang itu sehabis pulang kerja, aku menggunakan kereta MRT untuk menuju tempat tinggal sementaraku, pemandangan dan pengalaman seru selalu terjadi saat pintu kereta terbuka, jika kereta tidak terelalu penuh maka ada peluang bangku kosong. Saat itu para penumpang yang berdiri di luar, berusaha cepat-cepat masuk seakan berlomba mendapatkan trophy ‘bangku’. Kadang penumpang yang didalam belum keluar pun sudah terdesak masuk lagi karena antrian dari luar yang memaksa masuk. Hal ini merupakan rutinitas perjalanan sehari-hari.
Dan di tiap lorong itu ada beberapa bangku yang memang dikhususkan utk wanita hamil dan para orang tua. Dan biasanya bangku ini pun sudah penuh terisi.
Dalam kereta ini bercampur aduk lah sifat masing2 orang, ada yang membawa tas ransel tidak menaruhnya dibawah, tapi tetap dipunggungnya dan seakan kereta itu ‘rumahnya’ sehingga dia bebas saja maju mundur, padahal sang tas itu menekan para penumpang lainnya, dan dia malah cuek saja, merasa saya ‘bayar’. Ada juga yang dengan santainya tidur dengan kaki menjulur panjang sehingga menghalangi orang yang hendak melaluinya. Ada lagi dengan cueknya tetap membaca buku sambil berdiri, dimana kadang buku dan surat kabar itu akan memakan tempat sendiri dan membuat ruang semakin kecil. Blum lagi yang tidur dengan nyenyaknya, kapala mulai saling bermain irama, mengikuti arah kantuk, untung-untung tidak ada air liur yang ikut bernyanyi.
Kembali lagi saat acara masuk ramai2 itu, setelah sekitar 3 detik, maka akan terlihat wajah-wajah penuh kemenangan, dengan berhasil mendapatkan ‘trophy bangku’ dan ada yang tersenyum karena kalah mendapatkan si bangku dan kemudian berdiri. Seakan itu menjadi suatu permainan yang selalu menemani perjalanan dengan kereta.
Suatu waktu aku cukup beruntung karena mendapatkan bangku kosong, aku duduk dan manaruh tasku dibawahnya, lalu kereta mulai berjalan lagi menghampiri perhentian selanjutnya dan mulailah banyak orang masuk lagi, kuperhatikan seorang tua masuk dan aku berusaha mencari arah pandang kepadanya berharap matanya untuk melihat ke arahku, dan ternyata berhasil dan aku mulai menawarkan si bangku ini kepadanya, dia menggelengkan kepala sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Aku berpikir mungkin tujuaannya sudah mau sampai, sehingga dia menolak, tapi setelah 4-5 perhentian, dia tidak turun juga, lalu mungkin aku berpikir oh dia itu sungkan, dan aku berpikir, jika aku ditawarkan bangku mungkin aku akan seperti dia, menolaknya dengan halus (sejauh ini sih blum ada yang nawarin).
Sehingga di lain kesempatan caraku lain lagi, aku langsung berdiri dan mempersilahkan si orang tua duduk, dan kadang aku membimbingnya langsung. Dia berterima kasih dan saat bangku sebelahnya kosong, dia lalu menjaga di bangku kosong itu lalu memanggilku cepat2 sehingga berharap aku duduk disitu.
Kisah ini mengingatkan ku juga sewaktu perjalanan ke Badaling, Great Wall, saat itu perjalanan naik bus umum, dan sang kondektur seorang perempuan, waktu itu aku sedang tertidur didalam bus, ternyata bus mulai penuh sesak, dan aku pun terpisah duduk dengan sang kekasih. Ternyata saat itu ada seorang ibu dan anak kecil masuk, ibu itu hamil, dan si kondektur itu sudah teriak2 untuk memberikan tempat duduk bagi si ibu ini, karena aku tadinya tertidur dan juga aku tidak mengerti apa yang dia teriakin karena bahasa mandarin, tapi begitu aku tersentak bangun, aku melihat ibu ini dan langsung berdiri, aku memberikan bangku yang nyaman itu kepadanya, padahal perjalanan masih jauh juga, dan bawaanku cukup berat, tas ransel dengan kamera dan teman2nya. Aku berdiri desak2an dan si kondektur bilang kepadaku ‘xie-xie’ terima kasih. Aku Cuma tersenyum dan dia berusaha mengajak aku ngobrol dalam bahasa Chinese, aku Cuma berkata ‘wo pu ming pai, wo pu chiang chung wen’ yah kata2 itu lah yang selalu jadi senjata pamungkas ku saat di China, yang artinya, ‘aku tidak mengerti, aku tidak bisa ngomong Chinese’. Dan dia mulai berkata lagi yang menanyakan aku ini dari mana, aku lupa kata2nya tapi aku ngerti maksud pertanyaan itu karena sudah terbiasa ditanyakan, aku bilang ‘In-ni’ artinya Indonesia.
Lanjut perjalanan dan aku semakin terdesak kebelakang, tiba tiba si kondektur berteriak2 lagi, waduh apa lagi nih, dan semua mata orang menuju ke aku, sang kekasih malah ketawa-ketawa, mati aku, apa kali ini, aku ngak ngerti tapi kok semua mata ke aku, ternyata, si kondektur itu dengan wajahnya yang ceria dan semangat, menyuruh orang2 membuka jalan untuk aku lewat, dia sebenarnya sudah memanggilku dari tadi tapi aku tidak mengerti, dan akhirnya dia terus terobos dan berusaha menarikku. Jadilah semua mata terpandang ke aku, dan ternyata dia mendapatkan satu bangku kosong yang sudah ditinggalkan pemiliknya, dan dia menjaga bangku itu tidak untuk orang lain, tapi sudah di reserve untuk ‘sang pemenang’. Aku dengan malu2 dan senyum2 berusaha menolak tapi semua orang malah seakan menyuruhku duduk, mungkin mereka melihat kalau aku telah memberikan ‘trophy’ ku sebelumnya kepada ibu hamil dan anaknya, jadi mereka rasa aku layak mendapatkan si ‘trophy bangku’ ini.
Akhirnya karena seakan didaulat, yah aku menghampiri pialaku yang biasanya piala itu digenggam, tapi ini malah aku kasih pantat, diduduki. Dan si kondektur dengan wajah puasnya ketawa dan aku berkata ‘xie xie’. Sang kekasih pun tertawa-tawa melihat wajah kebingunganku. Ternyata bahasa ‘bangku’ itu bisa diterapkan dengan mudah.
Minggu lalu pun aku sedang duduk di kereta MRT, dan seorang ibu tua datang, kemudian aku berikan tempat duduk, dan dia senang sekali kemudian saat dia mencapai tujuannya, dia memberikan kembali tempat duduk itu, tapi ternyata penumpang disebelahnya yang sebenarnya tahu aku memberikan bangku itu, tidak dengan mudah menyerahkan bangku itu kembali kepadaku, dia merebutnya dan menyuruh anaknya yang sebenarnya sudah sharing satu bangku dengan dia untuk duduk, aku hanya tersenyum sementara si ibu menggurutu dan melihat kepadaku berkata dalam Chinese, karena aku tidak mengerti aku tersenyum, aku tahu pasti si ibu itu mau bilang sesuatu ttg penumpang sebelahnya. Tapi aku tetap tersenyum dan ternyata bangku diseberangnya kosong, aku tawarkan lagi kepada penumpang yang berdiri dan mereka menolak dan aku duduk, jujur saja saati itu aku dalam kondisi lelah pulang keliling berjalan menyusuri national park.
Kadang aku pun saat benar2 lelah tertidur dan tidak mengetahui kalau ada didepanku ada ibu hamil, karena kebanyakan ibu2 hamil pun disini susah mendapatkan tempat duduk, sehingga ku saat terjaga, pun menawarkan tempat duduk, tapi ibu itu menolaknya dan aku tetap berdiri, membiarkan ibu itu duduk, wow suatu hal yang tidak diduga, saat ibu itu hendak menduduki, ternyata sang ‘trophy’ ini begitu berharga bagi orang lain, seorang pemuda dengan gagahnya merengkuh si bangku, seluruh mata pun terpandang kepadanya, dia dengan cueknya tetap saja merasa tak bersalah, padahal aku masih baru berdiri dan melihat pialaku yang seharusnya kuberikan kepada seseoang yg layak malah direbut orang lain, mungkin si bangku kalau bisa menolak akan menolak.
Ada juga suatu kesempatan karena bangku yang sudah ada sign priority, yang menganjurkan diberikan kepada orang yg membutuhkan, tapi karena banyak juga orang yg ngak rela memberikannya sehingga suatu waktu aku melihat seorang tua menggerutu saat si orang yg duduk disitu hendak keluar, mungkin si nenek ini berkata itu kursi harusnya untuk orang tua. Tapi memang tidak bisa disalahkan karena itu merupakan anjuran. Tergantung orang untuk berbaik hati atau tidak.
Suatu awal pagi, di saat aku memberikan bangku yang aku duduki kepada seorang bapak tua, kemudian aku berdiri, seseorang yang melihat hal itu mendekatku dan berkata “terima kasih, semoga Tuhan memberkati”. Dari satu bangku aku mendapatkan suatu berkat serta bisa membagikan berkat.
Bangku,
Saat kau kosong, kau terlihat cantik
Tapi saat itu kau merasa sepi
Saat kau terisi, kau tidak lagi terlihat
Tapi saat itu kau berharga.
August 25th, 2008 at 7:01 pm
halo.. salam kenal.. saya pengguna kereta di bogor jakarta.. setelah baca tulisannya, ternyata kelakukan penumpang kereta di manapun sama ya.. kalau naek kereta rebutan masuk, rebutan bangku.. setelah dapat bangku, sibuk baca koran atau tidur lelap. kadang ada orang yang tidak semestinya duduk di bangku khusus.. kita malah suka gelar koran di lantai kereta, seru! kayak lagi lesehan..
nice story.. oh yaa, sekalian deh, foto2nya juga bagus. saya perlu lebih banyak belajar foto nih..
salam…
September 19th, 2008 at 9:31 am
halooo…
mau berbagi pengalaman nih soal perbangkuan.
waktu itu saya naik bis nomor 22 dari tampines ke serangoon. saya duduk di kursi dekat pintu keluar. saya sengaja pilih tempat ini biar gampang kalo mau turun soalnya nanti di daerah kampong ubi mesti bis bakalan penuh sesak. lagipula posisi ini juga cukup aman, kalo ada senior citizen ato ibu hamil yang gak dpt tempat duduk bakalan ditawarin ma mereka yang duduk di depan.
ketika bis sampai di daerah kampong ubi, naiklah seorang ibu (yang saya kira) hamil. biasanya ibu2 hamil begitu masuk bis langsung tengok kanan-kiri liat2 sapa tau ada kursi kosong. tapi si ibu ini lain dari yang lain. dia langsung ngeloyor ke area belakang dan berdiri tepat di samping saya. karena saya liat perutnya buncit seperti orang hamil maka saya berdiri dan mempersilakan si ibu itu untuk duduk. tapi si ibu ini malah pindah ke tempat lain seperti sengaja menghidar.
sampai di rumah saya ceritakan hal ini pada teman saya dan saya shock mendengar penjelasan teman saya ini, “mungkin dia gak hamil tapi temenku yang diabetes itu lho… perutnya emang buncit persis kayak orang hamil. dia juga gak suka kalo ada yang nawarin tempat duduk buat dia.”
tips dari teman saya untuk membedakan yang buncit karena hamil dan tidak adalah dengan melihat alas kakinya. kalo pakai yg flat besar kemungkinan dia hamil. kalo yang pakai hak tinggi…. bodo amat mo hamil pa gak….
salam…