Usia Tua

Teman setia sepanjang hidup kita adalah waktu, selalu ada dan menemani, dari kita lahir sampai menjadi tua, waktu tetap ada, dia tetap abadi sampai saatnya kita meninggalkan kehidupan duniawi.

Di pagi ini aku seperti biasa sang surya menyapaku, dengan hamburan sinar keemasan pagi dan sejuknya udara pagi, aku menjejakan kaki menuju taman. Seperti biasa aku menghabiskan waktuku di taman, untuk mendengarkan suara alam, suara burung berkicau dan juga mengamati mereka serta merekamnya dengan kameraku. Saat aku hendak menuju ke taman, aku bertemu dengan seorang ibu yang sedang duduk, usianya mungkin sudah 70-an tahun terlihat dari keriput yang membalut tubuhnya serta warna putih alami yang memenuhi rambutnya. Dia hendak menyeberang jalan dengan bawaan kardus2 bekas. Ibu tua ini berjalan perlahan mendorong kereta yang berisi kardus2 bekas, lalu kemudian menghampiri tempat2 sampah, untuk mengambil beberapa kardus bekas yang terdampar disana. Bis yang aku ingin tumpangi sudah datang, tapi aku terlalu terbawa suasana pagi perjalanan si ibu ini. Sehingga aku putuskan untuk menunggu bis berikutnya. Aku amati kegiatan ibu ini, dari cara berjalannya yang membungkuk, perlahan-lahan mendorong keretanya, mengaduk sampah dari tong sampah, mencari ‘harta’ terbuang.

Kejadian ini mengingatkanku sewaktu aku di Macau, juga mendapatkan kisah seperti ibu ini, sudah sangat tua, mungkin sudah 80 tahun, tapi harus berjuang dengan kesendiriannya mengumpulkan kardus2 bekas, demi kelanjutan hidupnya, dia berjalan pun sangat susah, tubuhnya sudah membungkuk sangat dalam, tulang2 sudah tidak kuat lagi.

Kehidupan begitu keras, aku yakin mereka pun punya family, mereka punya anak, sejenak pikiranku kembali berputar-putar mengeluarkan pertanyaan dan mencari jawabannya, kenapa bisa seperti ini?, dimana anak-anaknya? Mengapa sudah setua itu pun harus bekerja seperti ini?

Dimanakah kasih sang anak dan family, apakah memang begitu individualisnya kehidupan sekarang?

Dalam suatu perjalanan pulang sewaktu aku di kereta, aku berbincang dengan seorang tua, dia mengatakan kalau dia harus tetap bekerja di usia 65 tahun, dia sendiri harus mencari makan, dan dia bercerita kebanyakan teman-temannya juga sama harus sepeerti dia, lalu aku pun mulai bertanya bagaimana dengan anak2nya. Sang bapak ini menatapku, dia bilang, bukan anak2nya tidak mau mengurus mereka, tapi mereka juga tidak mau menyusahkan anak2 mereka. Hidup yang susah, apa-apa mahal, untuk menghidupi keluarga kecil sendiri saja sudah rumit sekali, jadi kasihan mereka jika harus juga mengurus orang tuanya.

Pikiranku terus berontak, tidak bisa ini, anak harus tetap memperhatikan orang tuanya, bagaimana pun juga mereka ada di dunia ini karena kedua orang tuanya. Tapi di satu sisi, apakah sebagai anak harus menutupi perasaannya karena seharusnya mereka mau tapi mereka tidak mampu untuk berbuat sehingga mereka seakan membiarkan para orang tuanya hidup sendiri?

Susah menerka dan menebak jalannya kehidupan ini, kondisi hidup yang susah, mengharuskan juga mempersiapkan biaya yang mahal untuk merawat anak kecil, dan kemudian harus melupakan orang tuanya. Dan para orang tua itu pun dengan kebesaran hati dengan tidak menuntu, “kamu bisa jadi sekarang karena aku” tapi menerima keadaan hidup ini. Kedua pihak saling menyimpan perasaan yang hanya mereka yang bisa mengerti, dengan segudang andai2 dan perumpamaan dengan segudang pertanyaan yang tidak terjawabkan, hal itu menjadi teman tidur dan pernungan hidupnya.

Kadang aku tidak tega melihat, petugas toilet membersihkan toilet sewaktu aku ada di dalamnya, mereka membersihkan wastafel dan toilet pria dengan tangan berbalutkan sarung tangan, menyeka dan mencucinya, sedangkan aku yang masih muda lalu membanjiri dan mengotori lagi.

Begitu pun sewaktu aku memesan makanan dan minuman, sang ibu tua membawakan minumanku dan aku cepat-cepat mengambilnya, dia lalu melihat kepadaku dengan mulut bergumam, tapi aku tidak mengerti bahasa yang diucapkan, karena aku tidak mengerti bahasa Chinese, tapi akhirnya dia memberi tahu aku, biarkan aku bawakan, dengan begini aku dapat uang, jika kamu tidak memberikan aku kesempatan ini, aku tidak mungkin diperkerjakan disini. Semenjak itu aku pun mengerti, dan berusaha memahami walau tidak tega tapi kubiarkan mereka menolongku. Dimana sebelumnya aku selalu berpikir kenapa haurs orang tua yang diperkerjakan kenapa tidak anak2 muda.

Bagi orang di usia tua seperti mereka tentu saja sulit untuk mencari pekerjaan, sehingga pekerjaan seperti mengumpulkan kardus bekas, mencuci dan membersihkan piring di food court serta juga membersihkan toilet menjadi pilihan pekerjaan yang masih bisa mereka lakukan. Itu untuk terus melangsungkan kehidupannya.

Mungkin kita berkata, salah sendiri kenapa tidak menabung dari dulu, atau salah sendiri kenapa tidak mendidik anak agar menghargai orang tua. Tapi mungkin kita bisa lebih bisa mengerti keadaan mereka dan tidak menghakimi dengan berkata demikian, mereka sudah susah, mungkin kita bisa lakukan sesuatu untuk mereka. Setiap orang punya pemikiran berbeda dalam menjalani kehidupannya, dan kita tidak bisa mengerti dan memaksakan pemikiran kita kepada mereka.

Aku pun berpikir, semoga aku bisa membalas budi baik dan berbakti pada orang tua ku, menghargai mereka, dan membiarkan mereka untuk menikmati hari tuanya.

Recent Entries

7 Responses to “Usia Tua”

  1. eri Says:

    Halo !

    Salam kenal.. nama saya eri, chinese medan. Saya suka baca KoKi karena cerita2nya unik dan kadang bisa diambil maknanya, tapi baru kali ini saya tergerak untuk ngasih komentar..

    Ohya, saya sekarang kerja di singapore, sudah hampir 2 bulan.

    Untuk tema usia tua & bangku, saya setuju banget.. (tema yang lain belum baca, sengaja disisain buat besok2..)

    Saya kerja di salah satu perusahaan semi konduktor dan kerja shift malam. Di tempat kerja saya ini, ada juga ibu2 yang sudah tua banget, sampai bongkok2 gitu, harus tertatih-tatih mendorong troli dan membersihkan toilet2. Tengah malam buta lagi. Hati rasanya sedih sekali. Sementara para pemakai toilet dengan seenaknya membuang sampah tidak di tempatnya, mengotori lantai dan kloset.
    Pernah juga ketemu nenek yang dah tua banget lagi ngumpulin kardus2 tua di daerah chinatown. Wah, pokoknya jadi pengen nangis deh. Ohya, di tempat2 makan, banyak juga ibu2 tua yang beresin meja makan.
    Yah, yang bisa dan sedang saya lakukan selama ini adalah berusaha meringankan kerjaan mereka, berusaha bersikap ramah dan berjanji dalam hati, untuk memperlakukan ibu saya lebih baik. Jangan sampai beliau menderita di hari tuanya..

    Untuk tema bangku… Yah, betul sekali. Raaanya niat untuk ngasih ‘piala’ ke orang yang lebih membutuhkan dah g ada lagi di sini. Saya pernah liat ada ibu-ibu (auntie-auntie gitu) yang dengan rakusnya memborong 2 bangku di dalam bus, 1 untuk dia sendiri dan satunya lagi untuk barang bawaannya. Sementara itu, ada bapak2 yang dah tua barusan naik dan si auntie ini sama sekali tidak mau mengangkat dan memangku barang bawaannya supaya bapak tua tersebut bisa duduk.
    Jadi sekarang, kalau naik mrt atau bus, saya lebih milih berdiri aja, mau jarak dekat atau jarak jauh. G mau rebutan piala, dan berusaha untuk tidak meliat orang2 egois yang tidak mau memberikan bangkunya untuk orang2 tua atau ibu hamil. Cape :(

    Ohya, suka fotografi ya.. Foto2nya bagus. Bapak semang saya, orang Jakarta, juga senang fotografi. Dia suka hunting foto kalau pas off..

    Yah, sekian dulu deh komentarnya… Dah kepanjangan. Makasih banyak buat cerita USIA TUA ma BANGKU-nya..

  2. felicity Says:

    Beautiful article… very touching pictures….beautiful message… Keep on going… Salam Kenal :D

  3. agatha Says:

    hmmm, memang begitulah keadaan sebagian besar para manula di spore, kasian memang kalo dibandingkan dengan keadaan di indo (masih bisa diurusin anak cucu), badan sudah ringkih masih terseok-seok kerja kasar, heran juga kenapa di sana gak ada sistim pensiun ya seperti di eropa? kalo di eropa biarpun apa2 sendiri (termasuk tinggal dan belanja sampe terseok-seok bawa tongkat) tapi gak perlu harus kerja kasar begitu. kayaknya ada yg salah deh. thx utk tulisannya yang sangat menarik, itung2 untuk pengalaman kalo2 hdp di sana. utk masalah bangku, wah aku belum mengalaminya, mungkin krn sering gak dapet tempat duduk =)), tp masalah egois seperti di atas kayaknya di jkt jg sama aja deh apalagi kalo di bus trans-jkt. foto2nya bagus sekali, bener2 dramatis efeknya, jgn pake foto berwarna ya….^_^

  4. Eny Says:

    David, eh nama adikku juga David. Salam kenal yah. Topik yang bagus sekali, karena ini yang lately ada di benakku semenjak ibuku meninggah 1 th lalu. Sebetulnya soal manula ini adalah masalah culture. Sudah budaya di Ind kalo anak2 ‘harus’ merawat ortu kalo anak sudah jadi ‘orang’. Makanya di Indo punya anak kesannya buat investasi buat hari tua. Kalo di negara2 lain, punya anak karena kita memang pengen punya anak, untuk dididik menjadi individu yang berguna and independent, bukan dijadikan ‘income’ ortu di hari tua. Makanya ortu2 di negara2 lain nggak mau merepotkan anaknya, makanya retirement plan sudah jauh2 hari dibikin. Sudah biasa kalo orang pekerja, sudah bikin plan berapa yang harus disisihkan buat jatah hidup nanti kalo dah retire. Aku dulu juga kaget, waktu pertama kerja di sini kok anak2 muda udah bicara soal retirement plan segala. Ternyata or ternyata ini emang penting. Terus sebagai anak sendiri, so pasti lah mau bantu…tapi itu kalo ekonomi mereka sendiri memungkinkan. Di Indo anak sering merasa dibebani buat ’support’ ortu, mungkin gak semuanya sih…tapi rasanya wajib gitu buat anak. Ini yang susah. Juga nggak semua ortu mau tinggal sama anak, ini malah yang bikin lebih rumit lagi.
    Kembali ke artikelmu, kalo manula masih kerja gitu, biasanya mereka emang tidak punya siapa2 lagi, ato emang dari dulu kerja nya nggak bagus yang nggak ada retirement plan-nya. Or mungkin juga ibu itu emang dari dulu dah jadi homeless gitu. Who knows? Emang bikin kita menerawang yah… Plus kadang ada loh manula yang emang demen kerja, karena being aktif bisa bikin manula sehat. Di kantorku ada bapak2 usia 70-an masih aktif kerja full time, karena dia nggak suka duduk2 di rumah aja, gitu katanya.
    Udah deh jadi kepanjangan…kalo prinsipku sendiri, kalo tua nanti aku nggak ingin jadi beban anak2ku…ada saatnya buat letting go anak2ku untuk menjalani kehidupannya sendiri. Cukup bagiku ditengok anak2 n cucu2 beberapa waktu, atau keeping in touch dls, aku nggak mau anak2ku harus mikir gimana support aku dls. Semoga…
    BtW, nice article.

  5. Kanjeng Ragil Says:

    Tulisan yang mengena dihati dan kebetulan saya juga sedang menyusun tulisan yang isi nya hampir sama : tentang usia tua, yang merupakan hasil omong2 saya dengan orang2 yang sudah sepuh. Banyak dilema memang setelah menjadi tua, tapi semua pasti ada maknanya dibelik usia tua.

  6. shirley Says:

    Halo Vid.. akhirnya ada postingan baru lagi hehehe…
    Dulu pas aku di sg, shock juga liat tante2 dan oom2 kerja kasar. Ngga bermaksud rasialis, tp di indo aku ngga pernah ngeliat yang begitu.
    Kemudian denger cerita dari temen, bahwa the elder ini kebanyakan memang harus kerja, karena uang pensiun di sg ngga mencukupi. Sempet terpikir jg olehku, kemana anak-anak mereka??
    Skrg aku di Jerman nggak(atau belum??) ngeliat hal seperti ini..mungkin karena sistim pensiun di sini cukup bagus. Tapi aku sering liat, kakek atau nenek sendirian pergi belanja dengan bantuan bangku beroda. Lagi-lagi aku terpikir, kemana anak-anak mereka?? Dan sejenak aku termenung.. mungkinkan beberapa tahun lagi, ada orang yang berpikiran sama saat melihat orang tua ku sendirian? Hiks..jadi pengen balik kampunnnnnnnnggggg

  7. Je Says:

    Hi David,
    Hari Tua,aku membacanya langsung bertanya gimana nanti kita di masa tua
    Apakah nanti seperti mereka? aduh mudah2an jangan yah
    Sedih juga liat sudah sangat tua masih bekerja keras.Beberapa bulan lalu saya Ke Hongkong and liat ada satu ibu sudah sangat tua masih bekerja di tengah malam saya juga sempat bertanya dalam hati dimana anak2nya yah,apa mereka tau ibunya bekerja seperti ini?

    Jadi teringat pengalaman yang manis dengan seorang ibu tua yang bekerja di salah satu foodcourt Singapore.Saya lupa tas belanjaan di foodcourt isinya lumayan juga.Pas saya kembali kira2 3 jam kemudian si ibu menngampiri saya dan memberikan tas itu kepada saya.Cheers salam dari Nz

Leave a Reply