Lilin Lilin Kecil

Kira-kira sebulan lalu, sesaat aku hendak pergi ke tempat resepsi perkawainan untuk memotret pasangan yang memintaku datang untuk memotret. Perjalanan dengan mobilku si biru. Semua berjalan lancar, sampai menuju ke restaurant, di jalan tol, terdengar seperti suara jangkrik, dan aku segera mengecek temperature si biru ini demam tinggi atau tidak. Ternyata semua baik, tapi rasa kawatirku mulai menguat setelah di tikungan menanjak dia mati mendadak, oh tidak, jangan sekarang, aku mesti tepat waktu sampai ke acara, karena aku akan mengatur setting kamera dan melihat situasi tempat tersebut. Ah dia mendengarku, si biru masih bisa menanjak sampai ke atas, dan aku akhirnya selamat sampai di tempat pesta.
Sepulang dari pesta aku melihat di bekas parkiranku, ada beberapa genangan air, aku berkata ah apakah itu air dari si biru, atau hanya sisa2 air lain. Tapi salahku juga aku tidak memeriksanya lebih jauh dan karena waktu yang medesak aku putuskan untuk pulang langsung menuju ke bandara. Dalam perjalanan tol awalnya lancar, sampai aku merasa kok pedal gas dan rem mulai panas, dan aku lihat wow si biru demam tinggi, sudah harus berhenti dan minta diperhatikan, karena takutnya aku berhenti di tol akan kena masalah lebih jauh, akhirnya aku bisa menahan si biru sampai keluar tol terdekat di daerah Pantai Indah Kapuk, dan langsung aku buka kap depannya, ah berasap, tapi blum meletus, jadi aku tunggu diam, dan aku yakin air radiator udah pasti habis. Setelah sekian lama menunggu, setelah cukup dingin aku buka dan benar kosong. Ah di jalanan sepi ini, aku harus mencari air dimana, sebotol aqua tidak cukup untuk mengisi radiator yg kosong ini. Aku sebenarnya janji dan sudah bilang kepada temanku, sesaat sebelum pulang dari pesta tersebut, kalau aku pulang dan ada masalah aku akan telepon dia. Tapi saat itu karena jaraknya jauh dan aku sungkan membuat orang lain sibuk, akhirnya aku coba mengatasi sendiri.
Sesaat kemudian, tiba-tiba datang suatu kejutan, sebuah mobil kijang datang dan berhenti didepan si biru, dan aku mulai kawatir, waduh semoga ngak berniat jahat, karena aku tahu jalanan ini sepi. Tapi ternyata bukan itu kejutannya, yang lebih mengherankan, sang bapak ini keluar dari pintu supir, langsung membawa tambang derek, loh kok seperti sudah dipersiapkan, dan dia langsung menghampiriku. Aku langsung melihat ke kekasihku, seakan ingin melihat pandangan dari raut wajahnya, karena dia pun kaget. Kok bisa tambang itu ada di depan jok. Si Bapak ini langsung bilang kepadaku, ayo sini diderek aja, bapak disini juga ngak ada siapa-siapa daripada nanti ada orang jahat. Aku sendiri takut, karena takutnya nanti aku diperas, dengan berbagai macam email dan cerita yang beredar tentang pemerasan dari mobil2 derek. Aku kemudian melihat wajah bapak ini sekali lagi, dan melihat kea rah mobil kijangnya, dari dalam ada 2 orang penumpang lagi, seorang ibu dan anak. Aku senyum kepada mereka, lalu aku merasa yakin, ini tidak akan ada apa apa. Dan mobil itu diderek sampai ke pertokoan ramai, dan bapak itu berhenti dan membuka tambang derek itu dan aku berkata terima kasih banyak, dari situ aku melanjutkan mengisi air yang banyak dan ternyata memang si biru telah bocor, jadi harus berhenti 7 kali untuk membuat si biru ini lepas dahaga. Dengan bantuan orang tuaku yang datang juga ke tempat karena sudah dekat rumah, dan aku harus segera ke airport, semua masih bisa tercapai dan selamat.
Tapi sepanjang perjalanan itu aku selalu teringat akan bantuan si bapak ini, dari rasa kawatirku menerima bantuannya karena pandangan dan pikiran-pikiran yang meracuniku yang seakan menganggap semua jadi negatif. Tapi kekawatiran memang perlu. Tapi bapak ini telah menunjukkan suatu pertolongan yang berarti bagiku.
Teringat aku dengan kisah yang aku alami juga, saat itu aku juga pulang sehabis motret wedding, dan itu sekitar jam 1 malam, saat itu di tol tomang-karawaci, aku yang terbiasa memacu mobil sampai mentok speednya, malam itu aku dapat pesan dari temanku, pesannya simple “vid, gua masih mau jadi temen elu… jangan ngebut…” Jadi malam itu aku ngak membuat si biru kerja keras, tapi aku masih sekitar 100-120 kmh dan ternyata ban depannya gembos… si biru kelimpungan, dan aku melihat ke arah kaca, melihat kearah belakang apakah ada mobil, dan ternyata cukup aman, aku berhasil memperlambat dan menepi. Kemudian aku mulai lah melihat, wow kena paku panjang, di jalan tol, yang lampunya tidak ada dan jam 1.30 pagi. Kemudian aku berusaha mengambil ban cadangan, wow kejutan di mulai, si ban cadangan ini ternyata juga sudah kurang angin, dan tidak mungkin aku pasang. Akhirnya dengan modal di jempol aku rada bertaruh meminta bantuan, aku mencoba menyetop mobil di jalan tol, terbayang dalam pikiran, kalau yang aku stop itu orang jahat sudah lah habis semua.
Tiba2 sekitar 5 menit aku berhasil mendapatkan satu mobil mendekat, dan pas mau berhenti mobil itu baru keluarkan jati diri aslinya, ternyata mobil polisi. Dalam hati aku pikir yaaaaa… kena deh. Trus pak polisi itu bertanya kepadaku, tentang apa yang terjadi, aku ceritakan semuanya, wah gimana ini jam segini susah panggil mobil derek, dan juga ngak ada kabel derek. Terus 2 polisi itu kemudian membuka bagasi mobil timornya, dan mengambil ban serepnya. Kemudian kita mulai mengoperasi si biru, memasang organ baru yang ternyata memang tidak sama ukurannya. Timor dan Soluna memang beda ukurannya. Tetapi karena darurat kita coba. Kemudian semua siap, kita berangkat, aku dan seorang polisi bersama si biru dan seorang polisi lagi di belakang mengikutiku. Dalam perjalanan itu pak polisi itu cerita, kamu tadi itu nekat, karena kalau orang jahat gimana? Habis kamu, harusnya telp dan diam di mobil dulu. Aku juga bilang yah, aku itu sungkan membuat orang lain sibuk, jadi aku pun ngak telp teman aku.
Selama menyetir, si pak polisi ini bilang kepadu, itu seat belt dilepas aja, karena ban kita ngak sama, kalau terjadi gesekan kita loncat. Aku masih bercanda, wah pak, kalau bapak loncat ke kiri bapak selamat, kalau aku loncat ke kanan pas ada mobil yang sama aja pak. Si Bapak ini tertawa, sambil bilang kamu ini sudah dapat musibah masih becanda aja. Akhirnya kita berhasil keluar tol di Serpong, kemudian mencari tukang tambal ban di pagi buta itu, dan kedua pak polisi itu juga sebanarnya ada tugas untuk mengatur kedatangan presiden, jadi dia berpesan ke si penambal ban, kamu lakukan semua dengan baik, dan jangan macam2, kalau sampai besok saya dengar kabar tidak baik tentang mobil dan bapak ini kamu akan saya cari. Wow malam itu aku kaget, ternyata dari kisah2 yang kebanyakan jelek tentang para polisi malam itu aku mendapatkan suatu penerangan yang membuatku tertegur, ternyata mereka berhasil menjadi lilin lilin kecil yang terus menerangi, yang terus menjadi pejuang tanpa nama, yang menunjukkan kebaikan tanpa pamrih.
Si penambal ban sampai bertanya kepada saya, pak kok bisa dibantuin polisi seperti itu, saya bilang mereka lah para lilin lilin kecil, yang selalu bersinar untuk memancarkan kasih dan kebenaran. Dari mereka lah aku bisa melihat lebih banyak nilai positif dari kehidupan ini.
Terima kasih pak polisi, terima kasih bapak pengendara mobil kijang yang telah memberikan suatu pandangan, bawah betapa pun buruknya suatu keadaan suatu masyarakat, di situ masih ada lilin lilin individu yang terus memancarkan sinarnya.
Kalian telah menanamkan sesuatu yang besar dalam perjalanan hidupku…
Di kala keadaan terang benderang, keberadaanmu tidak terasakan, tapi dalam keadaan gelap, cahaya kecilmu menjadi sumber harapan yang besar. Terima kasih kepada siapapun yang terus menjadi lilin lilin terang yang terus mengalirkan kasih bagi sesama.
Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia.
October 27th, 2008 at 11:02 pm
Hmm,
pernah baca pada dasarnya
kalo semua orang itu baik,
cuma ya, jaman sekarang sih
nice writing
February 16th, 2009 at 11:18 pm
Wah semoga banyak lilin – lilin kecil yang ada menyebar, sehingga semakin banyak lilin – lilin yang akan menerangi kegelapan..
thx for your writing, very good article..
March 5th, 2009 at 11:51 pm
Artikel yang menarik
March 6th, 2009 at 3:34 am
Thanks, atas artikel yg menyentuh.
Semoga mereka yang menjadi lilin – lilin mampu menerangi hati yg gelap.