Apakah kita berbeda?

Kepergianku ke Cambodia tepatnya ke Phnom Penh tanpa suatu persiapan, saat itu aku hendak pergi ke Myanmar, tiket sudah siap, hotel pun sudah dipesan, dan saat itu aku dari Bangkok, semua sudah aku cek melalui tour agent, kalau aku ngak perlu visa dan lainnya, karena Myanmar masih Asean.

Malam sebelum berangkat aku cek lagi informasi tempat-tempat yang bagus untuk aku kunjungi, ternyata informasi mengenai Myanmar ini rada sulit, adanya Junta militer. Ternyata kenyataan yang terjadi benar2 diluar dugaan, pas check in aku ditolak di bandara, dan hari itu pun aku harus keluar Bangkok karena visa habis (30 days) jadilah aku cari tujuan lain yg mana tiketku bisa diganti, akhirnya aku dapatkan Phnom Penh, tanpa ada persiapan aku mendarat disana, dan mencari hotel dengan model backpack, melalui tukang ojek aku dapat hotel murah meriah dan mulai lah petualangan disana.

Karena ketidaktahuan lokasi dan juga aku tidak bawa petunjuk nama-nama tempat, akhirnya aku bertanya-tanya melalui hotel dan mulailah petulangan berjalan kaki. Aku berkeliling jalan kaki dan masuk ke pelosok-pelosok kampung, dengan modal kamera di leher aku memasuki lorong2 sempit, dan beberapa orang melihat dengan mata tertuju pada kamera yang cukup mengundang mata untuk menatapnya, aku sempat ragu, apakah ini tempat aman atau tidak, tapi aku maju terus karena melihat keadaan cukup aman walau banyak pengemis.

Kali ini aku melihat banyaknya ragam kehidupan di jalan di Phnom Penh ini, aku kemudian bertemu beberapa orang dan bertanya-tanya apakah ada tempat yang cukup bagus untuk di photo, ternyata susah juga, dan mereka berpesan hati-hati karena kameraku cukup besar, selalu kata-kata itu yg diucapkan oleh beberapa orang yang aku ketemui. Dan juga aku banyak bertemu para pekerja NGO (Non Profit Organization) yang membaktikan diri di Phnom Penh, para guru dan lainnya… mereka jelaskan kalau disini mereka yang sudah tua merasa damai, dan bilang kepadaku, tidak usah terlalu kawatir, rakyat disini walau miskin, baik dan mereka menganggap semua ini dilakukan walau mereka menderita, mereka terima karena mereka berharap di kehidupan berikutnya mereka akan mendapat hidup yang lebih baik.

Berbekal perkataan itu aku mulai mendekati kehidupan di jalanan ini, dan mulailah aku seperti seorang jurnalis tanpa bekal, aku masuk ke rumah mereka yang terbuat dari papan papan triplek, dan aku diundang masuk, kemudian mengobrol seadanya, bahasa Inggris mereka cukup memadai dan membuat aku mengerti kehidupan mereka. Makanan seadanya pun mereka ajak aku untuk cicipi, tapi mungkin akan kaget karena ada lauk yang sejenis serangga, mungkin kecoak, dan juga ikan ikan teri… aku berusaha mencairkan suasana dengan bercanda dengan anak anak kecil dan berusaha menyatu untuk makan bersama, dan mereka seperti menerima si orang asing ini.

Selanjutnya aku berjalan lagi sampai ke jalan raya, di pinggiran jalan ini aku duduk dan memperhatikan kehidupan mereka, para gelandangan tidur tiduran, dan menanti uluran kasih, para anak kecil tanpa berbaju bermain-main di jalanan, banyak penjual asongan, tapi yang dijual bukan gorengan tahu tempe, tapi gorengan ikan teri dan serangga, ada juga pisang dan buah-buahan. Aku hanya membeli minuman kelapa dan buah buahan untuk menemani siang itu, sambil melihat kegiatan jalanan, aku mulai mendekati beberapa anak-anak unutk kupotret, dan aku mendekati seorang anak jalanan yang tanpa alas kaki mendorong gerobak sampah, dia berkeliling memunguti sampah, dan dia taidak bisa berbahasa Inggris, aku mengikutinya karena rasa ingin tahu, dan dia pun tahu aku ikuti, dan aku senyum dan dia pun senyum, dan sepanjang perjalanan itu aku memotretnya, aku liat dia mengorek-orek sampah dan mencari yang masih bisa dia ambil, saat itu aku ingin memotretnya tapi juga hati ini tidak tega. Dan akhirnya kita duduk berdampingan di jalanan ditemani deraunya mobil dan motor dan juga hempusan debu, dan dia merasa aku bukan ‘musuh’ dan membiarkan ku mengabadikan kehidupannya, dan juga datanglah saudarinya juga mengumpulkan sampah2 yang bisa didaur ulang. Oh suatu kehidupan yang berat untuk anak anak seumur mereka, hal ini menyentuh, apalagi saat menyaksikan mereka melihat hasil jerih payah mereka berdua dan seakan mengatakan tidak cukup, dan mereka menghitung uang yang mereka dapat, mereka tidak meminta-minta mereka masih berusaha untuk bekerja, dan aku pun hendak memberikan uang tapi aku takut mereka merasa kecewa dan menolaknya, tapi aku pun sulit untuk berkomunikasi dan inginnya mengajak mereka makan bersama, tapi kendala bahasa dan juga makanan, akhirnya aku berikan mereka uang, ragu mereka untuk menerimanya, tapi aku paksakan dan mereka tertawa dan mereka melambaikan tangan perpisahan, pertemuan ini sempat menjadikan ‘tontonan’ bagi orang lain, karena aku yang seakan seperti jurnalis berjalan sekitar 2-3 km, duduk bersama menikmati teriknya hari.

Menjelang sore aku duduk di tepian jalan, dan saat itu aku selalu tertarik dengan anak kecil dan didepanku ada seorang anak Cambodia yang menarik perhatianku, tadinya aku ajak dia bercanda, tapi keadaan ternyata sulit banyak yang berlalu lalang, sehingga aku duduk menjauh dari dia. Saat itu aku termenung dan seakan bertanya ke Tuhan, hari ini aku melihat lagi keadaan yang sungguh tidak bisa aku mengerti, seperti anak kecil ini, dia dilahirkan di kehidupan yang melarat, perutnya agak buncit mungkin lapar dan juga tanpa helai baju, Dia hanya anak kecil tanpa mengerti apa apa dalam kehidupan ini, mungkin dia hanya tahu untuk makan dan minum itu susah dan sehari cuma sedikit. Di saat aku masih memikirkan hal itu tiba tiba seorang tua datang, keliatan dia mungkin pendatang karena warna kulitnya yang berbeda, dia mengendong anak kecil juga, kemudian dia menunjuk ke anak Cambodia ini, hendak memperlihatkan kepada anak gadisnya, si anak gadis ini kemudian melihat si Cambodia ini dan tertarik untuk menggapainya, kemudian si orang tua mengambil uang dan memberikan kepada si gadis kecil untuk diberikan kepada si Cambodia ini, Moment yang indah ini, aku abadikan dengan kameraku walau aku masih harus mencari celah karena banyaknya orang lalu lalang.

Ah pelajaran yang baik diberikan orang tua itu kepada si anak gadisnya, walau saat si gadis diberikan uang, dia juga tidak tahu harus diapakan uang itu, dan dituntun sang ayah untuk diberikan ke anak Cambodia itu, dan juga si anak Cambodia itu bingung juga, karena dia blum mengerti uang, dan dia taidak mengambilnya karena bingung, tatapan matanya terlihat dalam photo dibawah ini.

Tapi setidaknya ada pelajaran dari pertemuan ini dan juga perenungan dalam diriku, ah Tuhan, apakah kita berbeda?

Gadis itu dan si Cambodian itu sama sama masih kecil, satu dilahirkan dalam keluarga yang bercukupan satu dalam keadaan yang tidak ada, dan mereka bertemu dengan jarak yang memisahkan, tapi mereka bertemu dengan suatu pelajaran kasih dari sang orang tua, mungkin si gadis ini akan selalu ingat dan selalu mau membantu orang lain dan mengasihi sesamanya tanpa memperhitungkan perbedaan yang ada, warna kulit, bahasa, budaya, agama, Negara, tapi semua tetap sama sesame manusia ciptaanNya.

Perjalanan berikutnya aku berkeliling ke Phnom Tamao, dengan menggunakan motorcycle, seperti ojek di Indonesia, sekitar 2,5 jam naik motor ke sana, mengunjungi zoo (tempat favoritku di setiap kota yang aku kunjungi) dan banyak menemui para pejuang2 kemanusian dan aku bertemu dengan satu gadis kecil bernama Ririn, aku bisa berkomunikasi karena Inggrisnya sangat lancar dan dia sangat pintar dan juga cantik, selalu menanyakan aku dari mana dan dia tidak mengenal Indonesia dan aku sempat bertukar email dengan para NGO dan mengirimkan photo2 mereka….

Perjalanan yg tidak kurencanakan, tapi aku sangat menikmatinya, banyak pelajaran kehidupan aku dapatkan, semoga photo2 ini juga bisa berbicara di hati anda…

Untuk photo2 lainnya bisa dilihat di:

http://www.davidwirawan.com/galery.php?city=Phnom%20Penh

Recent Entries

One Response to “Apakah kita berbeda?”

  1. faiz Says:

    waduh mas sudah sejak lama saya merindukan blog yang seperti ini dan baru kali ini saya temukan blog yang sungguh menyentuh, dan apapun yang bapak sampaikan yang bapak tuangkan itu merupakan cermin kehidupan yang nyata yang sedang kita alami dimasa ini atau bisa jadi masa yang akan datang semoga lebih bik dan kreatif lagi

Leave a Reply