Bunda

Terima kasih, mama…..

Saat aku mengambil photo ini, dimana seorang ibu mendekap sang anaknya dengan lemah lembut, aku memperhatikan sejenak pemandangan ini , Ibu ini kutemui di Phnom Penh, yah dia seorang ibu dari 3 orang anak kecil, dimana kutemui di pagi hari, saat aku berjalan kaki di sekitar pasar, hendak melihat suasana pagi hari di pasar.

 

 

 

 

 

 

 

Photo dibawah ini, kuambil ini 2 tahun yg lalu, sebagai ibu dia juga harus berjuang mengumpulkan barang barang bekas kemudian mengangkutnya dengan menumpukkannya hingga penuh di sepeda roda tiganya, bisa dibayangkan betapa berat dan juga beliau juga menunaikan kewajibannya sebagai seorang ibu, merawat sang anak, cukup berbahaya mengendarai sepeda seperti itu, tapi itulah resiko yang juga harus dihadapinya, untuk tetap bertahan hidup.

Aku sering mengamati kedekatan ibu dan anak, dan kadang merefleksikan dalam kehidupanku sendiri, melihat seorang ibu berjuang disusahnya kehidupan, dengan mungkin beragam cara agar bertahan, seperti photo diatas ini yang aku ambil beberapa hari lalu, dimana saat melewati terowongan dimana kadang-kadang aku menjumpai banyaknya penjual aneka ragam barang, dari kaos kaki, jepitan rambut, sarung tangan, buku dan lainnya. Mereka hanya berusaha utk mendapatkan uang dari hempitan kehidupan, mereka berharap oraang yg lewat sepertiku tertarik dengan barang dagangan mereka yang juga kadang berdebu, seakan tidak menarik, berbeda sekali dengan yang tersusun rapi di pusat perbelanjaan besar. Sekilas aku lewat, langsung aku terkesan dengan sang penjual, aku selalu tertarik dengan kepolosan anak kecil, aku kadang bermain dengan mereka, hanya bertatap2an dan juga senyuman, karena aku tidak bisa berkomunikasi secara lingua dengan mereka.

Kulihat apa yang dia jual lalu aku berusaha kontak mata dengan si kecil, lalu aku keluarkan kameraku sambil menangguk meminta ijin, aku mulai memotretnya, sang ibu tidak keberatan, aku sengaja mengambil sedikit gambaran suasana ‘jualan’ sang ibu dengan ditemani kereta dorongnya.

Kehebatan sang ibu, kebesaran hati sang ibu, mungkin si ibu ini berkata dalam hati kepada si anak, “maafkan aku, karena sewaktu kecil seperti ini pun kamu harus duduk di terowongan, dengan dinginnya cuaca dan hempasan debu, menemani ibu berjualan, ibu tidak membawamu ke tempat permainan, ke taman, atau tidur dirumah berselimut tebal dan kehangatan ruangan, tapi harus mengalami semua ini semenjak kau kecil”

Perasaan seorang ibu mana yang akan bisa tahan melihat anaknya seperti ini, tapi itulah kehidupan, dia harus bertahan, dia harus mencari uang juga untuk si buah hati, dan bila ibu bisa berteriak, dia akan berkata “maafkan ibu….”

Tapi pemandangan ini membuat aku melihat betapa besar kasih seroang ibu, mungkin bagi banyak anak ada yg bilang, aku dilahirkan, jadi sudah selayaknyalah ibuku yang merawatku, ada yg juga menuntut banyak, pokoknya aku harus dibelikan tas baru, buku baru seperti teman2ku, ada pula yang tidak bisa terima dengan kondisi keluarganya, malu dan tidak mau mengakui ibunya lagi, malu kalau memperkenalkan ibu dan bapaknya kepada teman2nya.

Aku bisa melihat sekarang bagaimana sang ibu berjuang, dengan susah payah menjajakan barangnya, kemudian tetap menjaga si bayi, dan juga aku tahu, jika polisi datang, si ibu harus berlomba dengan waktu untuk membawa semua barangnya dan juga bayinya, berlari menjauhi si polisi, bukan suatu kehidupan yang mudah, tapi ini seakan jadi keharusan baginya, karena ketidakmampuannya, kesulitan bekerja, tapi satu hal ibu itu tidak menyerah dan bisa bertahan dengan kondisi sekeras ini

Banyak anak yang mungkin beruntung bisa lanjut sekolah dikota lain, kemudian sukses sampai bisa kerja dengan gaji yang lumayan, tapi seakan lupa akan ibunya… seakan malu akan keluarganya, atau bisa saja merasa punya ‘beban setoran’ yang mana menyetor mamanya setiap bulan, tapi jarang yang menyapanya menanyakan keadaannya. Dan berpikir ‘aku sudah menunaikan kewajibanku merawat ibuku’ ah… mungkin lupa, saat kecil dulu, ibu tidak hanya dengan uang, tapi dengan kasih, dengan tangannya yang halus, dengan mengabaikan kecantikannya, kelembutan kulitnya, mereka merawatku, mencuci bajuku, mengganti popokku, semua itu mereka lakukan dengan cinta kasih. Tapi mungkin kita mencari alasan dengan susahnya kehidupan sekarang, susah bagi waktu, ah yang penting mama sehat, papa sehat, uang yang dikirim cukup, tapi mungkin mereka butuh satu rangkaian kata sapaan saja, “Mama, apa kabar hari ini, ma… aku sayang kamu” mungkin di hari ibu ini kita bisa menyisihkan waktu, menyisihkan kesungkanan, perasaan malu dan sebagainnya, bisa sekedar menjabat tangan, memeluk mama, atau juga bisa melewatkan waktu mengobrol di telp dengan mereka… perbuatan yang terasa kecil, tapi begitu besar artinya… mungkin saat itu kamu akan merasakan seperti anak kecil lagi, dan disitu bisa merasakan guratan tangan, muka yang sudah berbeda, masa tua mulai mengikisnya, tapi tetap memancarkan kasih seroang ibu.

“Mama, maafkan aku untuk segala sesuatu tingkah lakuku yang membuat mama sedih, Ma, terima kasih untuk kehidupan ini, aku bisa mengenal semua ini karena kasih mama, aku sayang mama,…..”

Recent Entries

2 Responses to “Bunda”

  1. Sutree Says:

    I love reading your entries. Very meaningful indeed.

  2. Hani Says:

    your story really can make me cry…..

Leave a Reply