Bapak Tua

Pak, tolong buka mulutnya?, kumasukkan sebutir obat dan kuambil segelas air, perlahan aku menganggkat kepala bapak itu agar bisa meminum air putih ini. Kurebahkan wajah tua itu, kutarik selimutnya sambil kuperhatikan matanya, dia terus menatapku terus.
Aku bertemu bapak ini didepan halaman gereja, bajunya lusuh, dan dia memakai tongkat menopang kakinya, salah satu kakinya lumpuh, sehingga dia tertatih-tatih berdiri di depan gereja, dia ingin masuk ke dalam gereja, tapi mungkin karena bajunya yang lusuh dan keadaannya yang kumuh, dia hanya bisa memandang dari luar saja.
Sewaktu aku mendekati, dia berusaha menjauhiku, tapi karena dia menggunakan tongkat dan usianya yang sudah tua, aku berhasil mengejarnya dan aku mengajaknya masuk ke dalam gereja.
Kuperhatikan keadaan bapak ini, suaranya serak, napasnya terengah-engah, aku bertanya dalam hatiku, kenapa bapak ini sendirian, kemanakah keluarganya? Lalu aku mengajaknya masuk ke ruanganku, sampai aku baringkan beliau.

?Terima kasih suster, engkau sungguh baik, dan wajahmu mengingatkanku akan seseorang?, suara yang serak dan berat itu berusaha terus untuk berbicara kepadaku. Tanpa kusadari bapak itu lalu memintaku untuk menemaninya, lalu dia menatap wajahku, pandangannya seakan kemataku tapi seperti pandangan jauh yang kosong yang melihat kenangan masa lalunya. ?Kau mirip sekali?, hanya kata itu yang keluar lagi, aku berusaha tersenyum kepada bapak ini.

Kupegang tangan bapak itu, dan dia sambil menatapku dia bercerita, ?aku telah melakukan dosa yang sangat besar kepada keluargaku, aku adalah seorang suami yang bahagia, beristrikan wanita yang cantik dan juga diberkati 2 anak yang manis. Sampai suatu hari aku mengalami kecelakaan saat bekerja, kakiku patah, remuk terkena alat berat di pabrik tempatku bekerja. Sejak kejadian itu aku tidak bisa bekerja lagi, aku hanya murung dirumah, dan hutang mulai menumpuk untuk membiayai perawatan kakiku. Istriku yang setia berusaha mencari kerja kesana-kemari untuk biaya pengobatanku dan juga untuk makan anak-anak. Melihat itu aku tidak tega, aku tidak bisa jadi tanggungan istriku, aku tidak sanggup untuk melihat hal itu.?

Aku mengambil tissue dan mengelap air matanya dan memberikannya air lagi, dan menyarankan kepadanya untuk istirahat saja, tapi dia kembali menatapku dan melanjutkan ceritanya ?sewaktu malam aku terbangun, aku melihat istriku hendak keluar malam, aku tidak menegurnya, aku hanya menatapnya secara diam-diam tanpa sepengetahuannya, dia pergi meninggalkanku malam itu, perasaanku mulai berdebar-debar, apakah yang dilakukan istriku malam-malam begini?. Kutunggu sampai ia pulang dan aku tidak bangun dari tempat tidurku, hanya mataku mengawasi gerak geriknya saja. Ia menghapus kosmetik yang ada di wajahnya, kemudian dia menangis, air matanya membasahi kedua mukanya, menangis di keheningan subuh, menahan suara itu tidak terdengar, tapi aku melihat semua itu, dan aku terpukul, aku menjerit, hatiku tidak bisa melihat hal ini, aku tahu apa yang telah dilakukan istriku, dan aku ingin menyalahkan istriku, ingin membentaknya tapi aku tidak bisa, aku tahu dia istri yang setia, aku tahu dia lakukan hal ini karena dia tidak ada jalan lain, obat untuk kakiku sangat mahal, pabrik tempatku kerja tidak memberikan aku jaminan karena aku hanya buruh kontrakan. Subuh itu aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa terima keadaan ini, menjelang matahari terbit, kokok ayam menyambut sang surya, istriku mulai terbangun dan mulai pergi membeli sayur.
Aku membelai kedua anakku, kukecup kedua keningnya, kuambil bajuku sebagian, dan kubawa foto istriku bersamaku, dengan hati yang kacau aku meninggalkan mereka?.

Air mata membasahi wajahnya, matanya mulai sembab, tapi dia terus ingin melanjutkan ceritanya, ?aku telah salah, aku telah tega meninggalkan istriku dan kedua anakku, aku lari dari kenyataan hidup, aku tidak mau membebani mereka dengan keadaanku dan tidak bisa melihat istriku seperti itu? suaranya mulai memberat, hatiku berdebar-debar, tak tahu kenapa, seakan aku merasakan suatu kedekatan, seakan aku merasakan adanya hubungan aku dengannya. Kudekap erat telapak tangannya dan dia mulai lagi bercerita, ?sebulan setelah kejadian itu, aku begitu terpukul, aku tidak sanggup seperti ini, aku melangkahkan kaki menuju rumah, tapi apa yang kutemukan rumah itu kosong, aku kehilangan keluargaku!!!… aku mencari mereka melalui tetangga-tetanggaku, tapi tidak ada yang mengetaui kemana mereka pergi?
Bapak itu terdiam sejenak, lalu melanjutkan ceritanya ?aku selalu berdoa untuk istriku dan anak-anakku, agar aku bisa berjumpa dengan mereka, aku akan menerima istriku apa adanya, akan kupeluk dia, dia sama sekali tidak kotor akan perbuatannya, aku tahu dia lakukan itu demi aku dan anaknya, dan tiap malam aku berdiri di depan gereja ini memohon pengampunan buat istriku dan berkat buat kehidupan anakku?

Aku terbawa suasana ini, kudekap tangan itu lebih erat, dan kubelai jari jemarinya, begitu kaget ketika aku melihat cincin yang ada ditangannya, cincin itu… Sadarlah aku, kutatap wajah bapak itu dalam dalam, kuseka air matanya, kudekatkan wajahku, aku tidak sanggup lagi, aku tahu sosok tua didepanku ini adalah bapakku, bapakku yang selalu kusalahkan, yang tidak bertanggung jawab, yang meninggalkan ibuku ada dihadapanku sekarang?..

Aku tidak tahu lagi bagaimana perasaanku, perasaan kesal, sebal begitu mendalam terhadap sosok bapakku terus membekas, tapi aku tidak bisa bohong, pertemuan ini begitu membuatku bahagia, aku bingung apa yang harus kukatakan, aku bingung apa yang harus kuperbuat, tanpa sadar air mataku turun melewati aliran mukaku, membasahi seluruh wajahku, dan aku hanya bisa memeluknya dan tidak bisa berkata apa-apa hanya menatap kosong ke arah salib yang tergantung diruangan altar gereja ini.

Recent Entries

Leave a Reply